ASKEP GONOBLENORE

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang

 

Suatu radang konjungtiva akut dan hebat dengan disertai sekret purulen yang disebabkan kuman Neisseria Gonorhea. Gonokok terdiri dari 4 tipe, yaitu tipe 1 dan 2 yang mempunyai vili yang bersifat virulen, serta tipe 3 dan 4 yang tidak mempunyai vili yang bersifat nonvirulen, vili akan melekat pada mucosa epitel dan akan menimbulkan reaksi sedang (Yumizone.html, 11 februari 2011).

Gonoblenore adalah radang selaput lendir mata yang sangat mendadak
ditandai dengan getah mata yang bernanah yang kadang-kadang bercampur
darah yang disebabkan oleh kuman Neisseria gonoroika. Proses peradangan yang sangat mendadak pada selaput lendir mata dapat disebabkan oieh Neisseria gonoroika, yaitu kuman-kuman berbentuk bulat, yang sering menjadi penyebab uretritis (radang saluran kemih) pada pria dan vaginitis (radang kemaluan) pada wanita. Proses ini dapat menyebar ke organ di sekitarnya (Sidharta Ilyas. 2001 ).

Dan tanda vaginitis pada wanita adalah adanya getah yang keluar lewat
kemaluan bernanah. Penyakit Gonoblenore dapat terjadi secara mendadak. Masa inkubasi
(massa mulai masuknya kuman sampai timbul gejala penyakit) dapat terjadi
beberapa jam sampai 3 hari. Keluhan utamanya adalah: mata merah bengkak,
dengan getah mata seperti nanah kadang bercampur darah. Laju infeksi dapat dikurangi dengan menghindari hubungan seksual dengan sembarang orang (bukan istri atau suaminya).

Pembasmian GO (Gonokkus) dengan cepat dari individu yang terinfeksi
dengan cara diagnosa dini dan pengobatan, dan penemuan kasus dan kontak melalui pendidikan dan penyaringan penduduk yang mempunyai resiko tinggi. Proses peradangan yang sangat mendadak pada selaput lendir mata .

Proses ini juga dapat menyebar ke organ di sekitarnya yaitu saluran telur, yang lama-kelamaan dapat berakibat kemandulan. lnfeksi pada mata ini dapat terjadi karena adanya kontak langsung antara neisseria pada kemaluan dengan lapisan mata luar.

1.2  Tujuan

 

  • Untuk mengetahui pengertian, tanda dan gejala dari Gonoblenore
  • Untuk mengetahui bagaimana proses perjalanan penyakit Gonoblenore
  • Untuk menambah pemahaman tentang asuhan keperawatan pada penyakit Gonoblenore

 

1.3  Manfaat

 

  • Agar dapat mengetahui pengertian, tanda dan gejala pada dari Gonoblenore.
  • Agar dapat mengetahui bagaimana proses perjalanan penyakit Gonoblenore.
  • Agar dapat menambah pemahaman tentang asuhan keperawatan pada penyakit Gonoblenore

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

LAPORAN PENDAHULUAN PADA GONOBLENORE

2.1 Definisi

Gonoblenore adalah suatu manifestasi dari penyakit infeksi konjungtiva mata yang pengertiannya sendiri adalah radang selaput lendir mata yang sangat mendadak
ditandai dengan getah mata yang bernanah yang kadang-kadang bercampur
darah yang disebabkan oleh kuman Neisseria gonoroika (Brunner and suddarth. 2001).

2.2 Etiologi

Gonoblenore yang disebabkan kuman “Neisseria gonoroika” sangat berbahaya sebab dapat menembus kornea mata yang utuh, ini dikarenakan kuman ini mempunyai enzim-enzim penghancur yang dapat merusak (menghancurkan kornea).Biasanya dalam waktu 2-3 hari jika terlambat dalam pengobatan maka komea sudah hancur.
Jika kornea hancur maka jelas dari penglihatan akan sangat turun. Di samping itu jika tidak segera diobati maka kuman akan dapat menjalar ke seluruh isi bola mata. Jika sudah begini maka semua bola mata harus diangkat (diambil) sehingga penderita rongga
matanya akan kosong karena tidak ada isinya.

2.3 Tanda dan gejala

Penyakit Gonoblenore dapat terjadi secara mendadak. Masa inkubasi (massa mulai masuknya kuman sampai timbul gejala penyakit) dapat terjadi beberapa jam sampai 3 hari. Keluhan utamanya adalah:

  1. 1.            mata merah bengkak, dengan getah mata seperti nanah kadang bercampur darah.

Bayi urnur kurang dari 1 tahun juga bisa terkena penyakit ini, biasanya
didapatkan karena tertular oleh ibunya, pada waktu melewati jalan
lahir. Namun pada bayi ini biasanya yang kena kedua mata langsung. Bayi umur kurang dari 5 tahun bila terkena, biasanya ada kontak dengan orang tuanya. Pengobatan Gonoblenore ini harus benar-benar intensit, sebab jika tidak, dapat terjadi pecahnya kornea (Wijana, Nana. 1990).

 

2.4 Path way

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perjalanan penyakit pada orang dewasa secara umum, terdiri atas 3 stadium :

  1. 1.      Infiltratif

 Stadium Infiltratif.

  1. Berlangsung 3 – 4 hari, dimana palpebra bengkak, hiperemi, tegang, blefarospasme, disertai rasa sakit. Pada konjungtiva bulbi terdapat injeksi konjungtiva yang lembab, kemotik dan menebal, sekret serous, kadang-kadang berdarah. Kelenjar preauikuler membesar, mungkin disertai demam. Pada orang dewasa selaput konjungtiva lebih bengkak dan lebih menonjol dengan gambaran hipertrofi papilar yang besar. Gambaran ini adalah gambaran spesifik gonore dewasa. Pada umumnya kelainan ini menyerang satu mata terlebih dahulu dan biasanya kelainan ini pada laki-laki didahului pada mata kanannya (www.Asuhan-keperawatan-askep-infeksi Gonoblenorea .html)
  1. 2.          Stadium Supurativa/Purulenta.

Berlangsung 2 – 3 minggu, berjalan tak begitu hebat lagi, palpebra masih bengkak, hiperemis, tetapi tidak begitu tegang dan masih terdapat blefarospasme. Sekret yang kental campur darah keluar terus-menerus. Pada bayi biasanya mengenai kedua mata dengan sekret kuning kental, terdapat pseudomembran yang merupakan kondensasi fibrin pada permukaan konjungtiva. Kalau palpebra dibuka, yang khas adalah sekret akan keluar dengan mendadak (memancar muncrat), oleh karenanya harus hati-hati bila membuka palpebra, jangan sampai sekret mengenai mata pemeriksa .

  1. 3.         Stadium Konvalesen (penyembuhan).

Berlangsung 2 – 3 minggu, berjalan tak begitu hebat lagi, palpebra sedikit bengkak, konjungtiva palpebra hiperemi, tidak infiltratif. Pada konjungtiva bulbi injeksi konjungtiva masih nyata, tidak kemotik, sekret jauh berkurang.

Pada neonatus infeksi konjungtiva terjadi pada saat berada pada jalan kelahiran, sehingga pada bayi penyakit ini ditularkan oleh ibu yang sedang menderita penyakit tersebut. Pada orang dewasa penyakit ini didapatkan dari penularan penyakit kelamin sendiri.

Pada neonatus, penyakit ini menimbulkan sekret purulen padat dengan masa inkubasi antara 12 jam hingga 5 hari, disertai perdarahan sub konjungtiva dan konjungtiva kemotik.

2.5 klasifikasi

  • Penyakit ini dapat mengenai bayi berumur 1 – 3 hari, disebut oftalmia neonatorum, akibat infeksi jalan lahir.
  • Dapat pula mengenai bayi berumur lebih dari 10 hari atau pada anak-anak yang disebut konjungtivitis gonore infantum.
  • Bila mengenai orang dewasa biasanya disebut konjungtivitis gonoroika adultorum.

2.6 Gejala klinis

Pada bayi dan anak

  • Gejala subjektif : (-)
  • Gejala objektif :

Ditemukan kelainan bilateral dengan sekret kuning kental, sekret dapat bersifat serous tetapi kemudian menjadi kuning kental dan purulen. Kelopak mata membengkak, sukar dibuka dan terdapat pseudomembran pada konjungtiva tarsal. Konjungtiva bulbi merah.

Konjungtivitis gonore (gonoblenore) pada bayi.

Pada orang dewasa

  • Gejala subjektif :
    • Rasa nyeri pada mata.
    • Dapat disertai tanda-tanda infeksi umum.
    • Biasanya terdapat pada satu mata. Lebih sering terdapat pada laki-laki dan biasanya mengenai mata kanan.
    • Gambaran klinik meskipun mirip dengan oftalmia nenatorum tetapi mempunyai beberapa perbedaan, yaitu sekret purulen yang tidak begitu kental. Selaput konjungtiva terkena lebih berat dan menjadi lebih menonjol, tampak berupa hipertrofi papiler yang besar. Pada orang dewasa infeksi ini dapat berlangsung berminggu-minggu.

(Wijana, Nana. 1990)

2.7 Pemeriksaan penunjang

  • Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan secara langsung dari kerokan atau getah mata setelah bahan tersebut dibuat sediaan yang dicat dengan pengecatan gram atau giemsa dapat dijumpai sel-sel radang polimorfonuklear. Pada konjungtivitis yang disebabkan alergi pada pengecatan dengan giemsa akan didapatkan sel-sel eosinofil.

Pada pemeriksaan penunjang dilakukan pemeriksaan sediaan langsung sekret dengan pewarnaan gram atau Giemsa untuk mengetahui kuman penyebab dan uji sensitivitas untuk perencanaan pengobatan. untuk membedakannya dilakukan tes maltose, dimana gonokok memberikan test maltose (-). Sedang meningokok test maltose (+). Bila pada anak didapatkan gonokok (+), maka kedua orang tua harus diperiksa. Jika pada orang tuanya ditemukan gonokok, maka harus segera diobati.

2.8 Pengobatan

Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi penyebab. Konjungtivitis karena bakteri dapat diobati dengan sulfonamide (sulfacetamide 15 %) atau antibiotika (Gentamycine 0,3 %; chlorampenicol 0,5 %).

Konjungtivitis karena jamur sangat jarang sedangkan konjungtivitis karena virus pengobatan terutama ditujukan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, konjungtivitis karena alergi di obati dengan antihistamin (antazidine 0,5 %, rapazoline 0,05 %) atau kortikosteroid (misalnya dexametazone 0,1 %).

2.9  Penyulit

Penyulit yang didapat adalah tukak kornea marginal terutama di bagian atas, dimulai dengan infiltrat, kemudian pecah menjadi ulkus. Tukak ini mudah perforasi akibat adanya daya lisis kuman gonokok (enzim proteolitik). Tukak kornea marginal dapat terjadi pada stadium I atau II, dimana terdapat blefarospasme dengan pembentukan sekret yang banyak, sehingga sekret menumpuk dibawah konjungtiva palpebra yang merusak kornea dan hidupnya intraseluler, sehingga dapat menimbulkan keratitis, tanpa didahului kerusakan epitel kornea. Ulkus dapat cepat menimbulkan perforasi, edofthalmitis, panofthalmitis dan dapat berakhir dengan ptisis bulbi.

Pada anak-anak sering terjadi keratitis ataupun tukak kornea sehingga sering terjadi perporasi kornea. Pada orang dewasa tukak yang terjadi sering berbentuk cincin.

2.10  Pencegahan

Kuman GO (Gonoroika) tersebar luas di dunia. Penyakit hampir semata-mata dipindahkan dengan kontak seksual, terutama oleh wanita dan laki-laki yang mempunyai
infeksi menahun yang tidak tampak gejalanya. Sekali berhubungan dengan
pasangan seksual yang terinfeksi kemungkinannya 20-30% (atau lebih
besar) akan terkena infeksi. Laju infeksi dapat dikurangi dengan:

  1. 1.      Menghindari hubungan seksual dengan sembarang orang (bukan istri atau suaminya).
  2. 2.      Pembasmian GO (Gonokkus) dengan cepat dari individu yang terinfeksi
    dengan cara diagnosa dini dan pengobatan.
  1. 3.      Skrining dan terapi pada perempuan hamil dengan penyakit menular seksual.
  2. 4.      Secara klasik diberikan obat tetes mata AgNO3 1% Segera sesudah lahir (harus diperhatikan bahwa konsentrasi AgNO3 tidak melebihi 1%).
  3. 5.      Cara lain yang lebih aman adalah pembersihan mata dengan solusio borisi dan pemberian kloramfenikol salep mata.
  4. 6.      Operasi caesar direkomendasikan bila si ibu mempunyai lesi herpes aktif saat melahirkan.
  5. 7.      Antibiotik, diberikan intravena, bisa diberikan pada neonatus yang lahir dari ibu dengan gonore yang tidak diterapi.
  6. 8.      penemuan kasus dan kontak melalui pendidikan dan penyaringan penduduk yang mempunyai resiko tinggi.
  7. 9.      GO pada bayi dicegah dengan pemberian obat lokal zat bakterisidat terhadap Gonokokus bila terjadi kontak pada selaput lender mata bayi-bayi yang baru lahir, misalnya perak nitrat 1%.

2.11  Penatalaksanaan

  1. 1.      Sekret dibersihkan dengan kapas yang dibasahi air bersih (direbus) atau dengan garam fisiologik setiap ¼ jam, kemudian diberi salep penisillin setiap ¼ jam. Penisillin tetes mata dapat diberikan dalam bentuk larutan penisillin (caranya : 10.000 – 20.000 unit/ml) setiap 1 menit sampai 30 menit. Kemudian salep diberikan setiap 5 menit selama 30 menit., disusul pemberian salep penisillin setiap 1 jam selama 3 hari.
  2. 2.      Tetes mata penisillin tiap 30 menit, kemudian salf setiap 5 menit selama 30 menit.
  3. 3.      Disusul salf penisillin tiap 1 jam selama 3 hari. Antibiotik sistemik
  4. 4.      Pencegahan dengan membersihkan mata bayi baru lahir dengan lar Borisi dan salf kloramfenikol.
    1. 5.      Pasien dirawat dan diberi pengobatan dengan penicillin, salep dan suntikan, pada bayi diberikan 50.000 U/kgBB selama 7 hari.
    2. 6.      Antibiotika sistemik diberikan sesuai dengan pengobatan gonoblenore.
    3. 7.      Pengobatan diberhentikan bila pada pemeriksan mikroskopik yang dibuat setiap hari menghasilkan 3 kali berturut-turut negatif.
    4. 8.      Pada pasien yang resisten terhadap penicillin dapat diberikan cefriaksone (Rocephin) atau Azithromycin (Zithromax) dosis tinggi.

 

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS

GONOBLENORE

 

3.1  PENGKAJIAN

  • ANAMNESA
  • Biodata /identitas klien meliputi :
    • Nama
    • Umur

semua kalangan usia dapat terjangkit penyakit ini, Bayi umur kurang dari 1 tahun juga bisa terkena penyakit ini, biasanya didapatkan karena tertular oleh ibunya, pada waktu melewati jalan lahir. pada bayi ini biasanya yang kena kedua mata langsung).

  •  Jenis kelamin
  •  Suku bangsa
  •  Pekerjaan
  •  Pendidikan
  • Status menikah ( karena salah satu etiologi dari gonoblenorea adalah seksual, berganti2 pasangan).
  • Alamat
  • Tanggal MRS
  • Diagnosa medis.

 

  • Keluhan utama, Tanyakan kepada klien adanya keluhan meliputi:
  • Nyeri.
  • Mata berdapat secret.
  • Mata merah dan bengkak
  • Pada saat sakit mata pernah mengeluarkan getah mata (nanah yang bercampur darah).
  • pada daerah konjungtiva terdapat purulen.
  • Terdapat Perdarahan pada sub konjungtiva
  • Riwayat Kesehatan

 

  • Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien dengan Gonoblenorea biasanya akan diawali dengan adanya tanda-tanda seperti: mata memerah seperti konjungtivitis akut dan bengkak atau sampai bernanah dan mengeluarkan darah., serta terdapat penurunan tajam penglihatan karena pada gonoblenorea kuman dapat menembus kornea sehingga bila tidak segera dilakukan tindakan kuman dapat menghamcurkan kornea sehingga penglihatan akan mengalami penurunan yang siknifikan.tidak lupa pada wanita yang sedang hamil tanyakan riwayat gonore dan status pernikahan.

 

  • Riwayat penyakit dahulu.

Tanyakan pada klien riwayat penyakit yang dialami klien seperti: apakah klien sebelumnya pernah mengalami penyakit yang sama, “kalaupun sudah yang kedua kalinya tanyakan” apakah sampai mengalami penurunan penglihatan dan apakah diderita pada ke dua organ matanya, serta apakah terdapat penyakit metabolic “ diabetes mellitus” atau pernah mengalami gonore (berganti pasangan).

  • Riwayat penyakit keluarga

Dalam keluarga apakah ada yang mengalami penyakit yang sama, atau terdapat penderita penyakit menular.

 

  • Riwayat psikologi 

klien gonoblenorea cemas dan merasa takut pada penyakit ini, klien sering merasa terganggu karena organ visus selalu mengeluarkan purulen atau bahkan darah yang disertai nanah, dan selalu merasa takut untuk kehilangan tajam penglihatan.

  • Pemeriksaan fisik
    • Ketajaman penglihatan

Uji ketajaman penglihatan merupakan bagian dari setiap data dasar pasien. Tajam penglihatan diuji dengan kartu mata ( snellen ) dengan jarak 6 meter.

 

  • Palpebra superior

Merah, sakit jika ditekan

  • Palpebra inferior.

Bengkak, merah, hiperemi, tegang, blefarospasme, disertai rasa sakit , ditekan keluar secret kental atau bahkan padat berwarna kuning pada bayi, pada orang dewasa secret kental, biasanya bercampur darah yang kelua secara terus menerus.

 

  • Konjungtiva tarsal superior dan inferior Inspeksi adanya  :
    • konjungtiva mengalami peradangan
    • kinjungtiva edema (bengkak) dan lebih menonjol.
      • Membran sel di depan mukosa konjungtiva yang bila diangkat akan berdarah.
      • terdapat purulen bahkan nanah dan darah.
        • konjungtiva bulbi terdapat injeksi konjungtiva yang lembab, kemotik dan menebal, sekret serous, kadang-kadang berdarah

 

3.2  DIAGNOSA KEPERAWATAN

 

  1. 1.      Gangguan rasa nyaman nyeri b/d peradangan dan pembengkakan pada daerah konjungtiva.
  2. 2.      Resiko infeksi b/d proses peradangan mendadak pada daerah konjungtiva
  3. 3.      Resiko tinggi cedera b/d penurunan organ visus atau keterbatasan penglihatan
  4. 4.       Gangguan integritas jaringan b/d pembengkakan pada daerah kelopak mata.
  5. 5.      Kecemasan b/d faktor fisiologis dari pernyakit,  perubahan status kesehatan : adanya nyeri, kemungkinan terjadinya penurunan penglihatan atau kenyataan terjadinya kehilangan penglihatan.

(Carpenito, Lynda Juall. 2000).

3.3  INTERVENSI DAN RASIONAL

  1. 1.      DX. 1

Gangguan rasa nyaman nyeri b/d peradangan dan pembengkakan pada daerah konjungtiva

 

  • Tujuan
    •  Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2×24 jam diharapkan klien merasa nyeri berkurang

 

  • Kriteria hasil
    • Nyeri berkurang.
    • Klien merasa nyaman
    • Ekspresi wajah tidak tampak kesakitan.
    • Keadaan umum baik.
  • Intervensi Dan Rasional
    • I               : Kaji tingkat nyeri yang dialami oleh klien.
    • R             : Untuk mengetahui tingkat skala nyeri yang dirasakan klien.
    • I               : Berikan kompres hangat pada mata yang nyeri.
    • R              : untuk mengurangi ketegangan otot okuli.
    • I               : Ciptakan lingkungan tidur yang nyaman, aman dan tenang.
    • R              : Merupakan suatu cara pemenuhan rasa nyaman kepada klien dengan mengurangi stressor yang berupa kebisingan.
    • I              : Anjurkan pasien untuk tidak menggosok – gosok mata yang sakit terutama dengan tangan
    • R              : Untuk mengurangi iritasi atau proses infeksi pada daerah visus.
      • I               : Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian analgetik
      • R              : Untuk memberikan terapi yang tepat dan sesuai kepada klien.

 

 

  1. 2.      Dx. 2

Resiko infeksi b/d proses peradangan mendadak pada daerah konjungtiva

 

  • Tujuan
    • Mampu mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko infeksi

 

  • criteria hasil
    • Proses penyebaran infeksi tidak terjadi.

 

  • Intervensi Dan Rasional  
    • I           : Kaji tanda-tanda infeksi
    • R         : Mengetahui seberapa tingkat keparahan dari infeksi.
    • I           : Bersihkan kelopak mata dari dalam ke arah luar ( lakukan irigasi).
      • R         : Dengan membersihkan mata dan irigasi mata, maka mata menjadi bersih    serta meminimalkan terjadinya infeksi.
  • I           : Berikan antibiotika sesuai dosis dan umur.
  • R         : Pemberian antibiotik diharapkan penyebaran infeksi tidak terjadi
  • I           : Pertahankan tindakan septik dan aseptik.
    • R         : Diharapkan tidak terjadi penularan baik dari pasien ke perawat atau perawat ke pasien.
    • I           :Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh/mengobati mata.
  • R         : Meminimalkan terjadinya infeksi dan penularan.
    • I           : Tekankan pentingnya tidak menyentuh/menggaruk mata yang sakit kemudian yang sehat
    • R         : Meminimalkan adanya banteri yang amsuk serta mencegah terjadinya infeksi berualang.
  • I           : Anjurkan keluarga  untuk memisahkan handuk, lap atau sapu tangan.
  • R         :  Untuk meminimalkan terjadinya penularan pada keluarga klien.
  • I           : kolaborasi dengan tim medist untuk memberikan terapi antibiotic
    • R         : Untuk memberikan terapi dan tindakan yang tepat pada klien serta utuk mengurangi terjadinya infeksi.

 

  1. 3.      Dx. 3

Resiko tinggi cedera b/d penurunan organ visus atau keterbatasan penglihatan

 

  • Tujuan
    • Klien mampu mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan yang terjadi.
    • Klien dapat mengontrol aktivitas yang dapat mengakibatkan dirinya cedera.
    • Mampu mengidentifikasi / memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.

 

  • Criteria hasil
    • Cedera tidak sampai terjadi.
    • Mampu berkompensasi dengan keadaanya sekarang.
  • Intervensi dan rasional
    • I      : kaji tingkat ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau kedua mata terlibat.
    • R     : mengetahui tingkat kenormalan visus klien serta mengetahui tingkat perjalanan atau prognosis penyakit.
    • I      : Batasi aktivitas seperti menggerakkan kepala tiba-tiba, menggaruk mata, membungkuk
    • R     : Menurunkan resiko jatuh (cedera).
    • I      : Orientasikan pasien terhadap lingkungan, dekatkan alat yang dibutuhkan pasien ke tubuhnya.
    • R     : Mencegah cedera, meningkatkan kemandirian
    • I      : Lakukan tindakan untuk membantu pasien menangani keterbatasan penglihatan seperti kurangi kekacauan, ingatkan memutar kepala ke subjek yang terlihat dan perbaiki sinar suram
    • R     : untuk meningkatkan kenyamanan dan ketenanagan klien serta untuk memudahkan klien meningat tempat yang diingikan.
    • I      : Atur lingkungan sekitar pasien, jauhkan benda-benda yang dapat menimbulkan kecelakaan
    • R     : Meminimalkan resiko cedera, memberikan perasaan aman bagi pasien.
    • I      : Anjurkan keluarga untuk mengawasi / menemani pasien saat melakukan aktivitas.
    • R     : Mengontrol kegiatan pasien dan menurunkan bahaya keamanan
    • I      : Anjurkan keluarga untuk mendekatkan benda-benda yang sangat dibutuhkan klien.
    • R     : untuk mempermudah klien menjangkau benda yang diinginkan.

 

  1. 4.      Dx. 5

Kecemasan b/d faktor fisiologis dari pernyakit,  perubahan status kesehatan : adanya nyeri, kemungkinan terjadinya penurunan penglihatan atau kenyataan terjadinya kehilangan penglihatan.

 

  • Tujuan
    • Setelah diberikan HE diharapkan klien dapat meminimalkan ancietas

 

  • Kriteria hasil .
    • Klien menunjukkan menurunnya pernyataan-pernyataan yang berhubungan dengan kecemasan.
    • Klien tidak menunjukkan sikap gelisah.

 

  • Intervensi Dan Rasional
    • I   : Kaji tanda dan gejala ansietas.
    • R  : Membantu dalam mengidentifikasi berat ringannya ansietas
    • I   :  Berikan informasi yang akurat  dan jujur
      • R  : Untuk mengurangi ansietas dan meningkatkan pengetahuan tentang perjalanan penyakitnya.
      • I   : Beri penjelasakn tentang perjalanan penyakit.
      • R  : Meningkatkan pemahaman klien tentang proses penyakitnya
      • I   : Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi kepada klien.
      • R  : Untuk meningkatkan kenyamanan dan mengurangi kecemasan.  
      • I   : Beri dukungan moril berupa do’a
      • R  : Memberikan perasaan tenang kepada klien

 

3.4  EVALUASI

 

  1. Pemahamani faktor yang dapat memungkinkan dapat menimbulkan cedera.
  2. Menunjukkan perubahan prilaku, pola hidup untuk menurunkan faktor resiko dan melindungi diri dari cedera.
  3. Mengubah lingkungan sesuai indikasi untuk meningkatkan keamanan.
  4. Tidak terdapat tanda-tanda dini dari penyebaran penyakit.
  5. Mendemonstrasikan penilaian penanganan adaptif untuk mengurangi ansietas.
  6. Mendemonstrasikan pemahamaan proses penyakit.

 


DAFTAR PUSTAKA

  1. Brunner and suddarth. ( 2001 ). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Alih bahasa : dr. H.Y. Kuncara dkk.Jakarta : EGC
  2. Sidharta Ilyas. ( 2001 ).Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Penerbit FKUI
  1. Wijana, Nana. 1990. Ilmu Penyakit mata. Cetakan V. Jakarta.
  1. Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Penerbit: EGC, Jakarta.
  2. www. Asuhan-keperawatan-askep-infeksi Gonoblenorea .html
  3. http//.KONJUNGTIVITIS GONORE DAN PENATALAKSANAANNYA « Yumizone.11 januari 2011, html
  4. www. google.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s