ASKEP ANAK DENGAN HISPRUNG

BAB 1

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Penyakit hisprung merupakan suatu kelainan bawaan yang menyebabkan gangguan pergerakan usus yang dimulai dari spingter ani internal ke arah proksimal dengan panjang yang bervariasi dan termasuk anus sampai rektum. Penyakit hisprung adalah penyebab obstruksi usus bagian bawah yang dapat muncul pada semua usia akan tetapi yang paling sering pada neonatus.

Penyakit hisprung juga dikatakan sebagai suatu kelainan kongenital dimana tidak terdapatnya sel ganglion parasimpatis dari pleksus auerbach di kolon, keadaan abnormal tersebutlah yang dapat menimbulkan tidak adanya peristaltik dan evakuasi usus secara spontan, spingter rektum tidak dapat berelaksasi, tidak mampu mencegah keluarnya feses secara spontan, kemudian dapat menyebabkan isi usus terdorong ke bagian segmen yang tidak adalion dan akhirnya feses dapat terkumpul pada bagian tersebut sehingga dapat menyebabkan dilatasi usus proksimal.

Pasien dengan penyakit hisprung pertama kali dilaporkan oleh Frederick Ruysch pada tahun 1691, tetapi yang baru mempublikasikan adalah Harald Hirschsprung yang mendeskripsikan megakolon kongenital pada tahun 1863. Namun patofisiologi terjadinya penyakit ini tidak diketahui secara jelas. Hingga tahun 1938, dimana Robertson dan Kernohan menyatakan bahwa megakolon yang dijumpai pada kelainan ini disebabkan oleh gangguan peristaltik dibagian distal usus defisiensi ganglion.

Penyakit hisprung terjadi pada 1/5000 kelahiran hidup. Insidensi hisprung di Indonesia tidak diketahui secara pasti, tetapi berkisar 1 diantara 5000 kelahiran hidup. Dengan jumlah penduduk Indonesia 200 juta dan tingkay kelahiran 35 permil, maka diprediksikan setiap tahun akan lahir 1400 bayi dengan penyakit hisprung.

Insidens keseluruhan dari penyakit hisprung 1: 5000 kelahiran hidup, laki-laki lebih banyak diserang dibandingkan perempuan ( 4: 1 ). Biasanya, penyakit hisprung terjadi pada bayi aterm dan jarang pada bayi prematur. Penyakit ini mungkin disertai dengan cacat bawaan dan termasuk sindrom down, sindrom waardenburg serta kelainan kardiovaskuler.

Selain pada anak, penyakit ini ditemukan tanda dan gejala yaitu adanya kegagalan mengeluarkan mekonium dalam waktu 24-48 jam setelah lahir, muntah berwarna hijau dan konstipasi faktor penyebab penyakit hisprung diduga dapat terjadi karena faktor genetik dan faktor lingkungan.

Oleh karena itu, penyakit hisprung sudah dapat dideteksi melalui pemeriksaan yang dilakukan seperti pemeriksaan radiologi, barium, enema, rectal biopsi, rectum, manometri anorektal dan melalui penatalaksanaan dan teraupetik yaitu dengan pembedahan dan colostomi.

  1. TUJUAN

Makalah ini bertujuan untuk memberikan informasi dan menambah pengetahuan kepada para pembaca khususnya kepada mahasiswa ilmu keperawatan mengenai penyakit hisprung. Makalah ini juga dibuat untuk memenuhi syarat dalam proses pembelajaran pada mata kuliah keperawatan anak.

 

 

 

 

 

 

BAB 11

TINJAUAN TEORI

A. KONSEP DASAR

  1. Definisi Hisprung

Penyakit Hisprung disebut juga kongenital aganglionik megakolon. Penyakit ini merupakan keadaan usus besar (kolon) yang tidak mempunyai persarafan (aganglionik). Jadi, karena ada bagian dari usus besar (mulai dari anus kearah atas) yang tidak mempunyai persarafan (ganglion), maka terjadi “kelumpuhan” usus besar dalam menjalanakan fungsinya sehingga usus menjadi membesar (megakolon). Panjang usus besar yang terkena berbeda-beda untuk setiap individu.

Penyakit hirschsprung adalah suatu kelainan tidak adanya sel ganglion parasimpatis pada usus, dapat dari kolon sampai pada usus halus. (Ngastiyah, 1997 : 138).

Penyakit hirschsprung adalah anomali kongenital yang mengakibatkan obstruksi mekanik karena ketidak adekuatan motilitas sebagian dari usus. (Donna L. Wong, 2003 : 507).

  1. Macam-macam Penyakit Hirschprung

Berdasarkan panjang segmen yang terkena, dapat dibedakan 2 tipe yaitu :

  1. Penyakit Hirschprung segmen pendek

Segmen aganglionosis mulai dari anus sampai sigmoid; ini merupakan 70% dari kasus penyakit Hirschprung dan lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dibanding anak perempuan.

  1. Penyakit Hirschprung segmen panjang

Kelainan dapat melebihi sigmoid, bahkan dapat mengenai seluruh kolon atau usus halus. Ditemukan sama banyak pada anak laki maupun prempuan.(Ngastiyah, 1997 : 138)

  1. Etiologi Hisprung
  2. Mungkin karena adanya kegagalan sel-sel ”Neural Crest” ambrional yang berimigrasi ke dalam dinding usus atau kegagalan pleksus mencenterikus dan submukoisa untuk berkembang ke arah kranio kaudal di dalam dinding usus.
  3. Disebabkan oleh tidak adanya sel ganglion para simpatis dari pleksus Auerbach di kolon.
  4. Sebagian besar segmen yang aganglionik mengenai rectum dan bagian bawah kolon sigmoid dan terjadi hipertrofi serta distensi yang berlebihan pada kolon.

(Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 1985 : 1134)

  1. Sering terjadi pada anak dengan ”Down Syndrome”.
  2. Kegagalan sel neural pada masa embrio dalam dinding usus, gagal eksistensi kraniokaudal pada nyenterik dan submukosa dinding pleksus.

(Suriadi, 2001 : 242).

  1. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala setelah bayi lahir

  1. Tidak ada pengeluaran mekonium (keterlambatan > 24 jam)
  2. Muntah berwarna hijau
  3. Distensi abdomen, konstipasi.
  4. Diare yang berlebihan yang paling menonjol dengan pengeluaran tinja / pengeluaran gas yang banyak.

Gejala pada anak yang lebih besar  karena gejala tidak jelas pada waktu lahir.

  1. Riwayat adanya obstipasi pada waktu lahir
  2. Distensi abdomen bertambah
  3. Serangan konstipasi dan diare terjadi selang-seling
  4. Terganggu tumbang karena sering diare.
  5. Feses bentuk cair, butir-butir dan seperti pita.
  6. Perut besar dan membuncit.
  1. V.            Patofisiologi

Istilah congenital aganglionic Mega Colon menggambarkan adanya kerusakan primer dengan tidak adanya sel ganglion pada dinding sub mukosa kolon distal. Segmen aganglionic hampir selalu ada dalam rectum dan bagian proksimal pada usus besar. Ketidakadaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya gerakan tenaga pendorong ( peristaltik ) dan tidak adanya evakuasi usus spontan serta spinkter rectum tidak dapat berelaksasi sehingga mencegah keluarnya feses secara normal yang menyebabkan adanya akumulasi pada usus dan distensi pada saluran cerna. Bagian proksimal sampai pada bagian yang rusak pada Mega Colon ( Betz, Cecily & Sowden).

Semua ganglion pada intramural plexus dalam usus berguna untuk kontrol kontraksi dan relaksasi peristaltik secara normal. Isi usus mendorong ke segmen aganglionik dan feses terkumpul didaerah tersebut, menyebabkan terdilatasinya bagian usus yang proksimal terhadap daerah itu karena terjadi obstruksi dan menyebabkan dibagian Colon tersebut melebar ( Price, S & Wilson ).

  1. Manifestasi Klinis
  1. Kegagalan lewatnya mekonium dalam 24 jam pertama kehidupan.
  2. Konstipasi kronik mulai dari bulan pertama kehidupan dengan terlihat tinja seperti pita.
  3. Obstruksi usus dalam periode neonatal.
  4. Nyeri abdomen dan distensi.
  5. Gangguan pertumbuhan.

(Suriadi, 2001 : 242)

  1. Obstruk total saat lahir dengan muntah, distensi abdomen dan ketiadaan evaluai mekonium.
  2. Keterlambatan evaluasi mekonium diikuti obstruksi periodic yang membaik secara spontan maupun dengan edema.
  3. Gejala ringan berupa konstipasi selama beberapa minggu atau bulan yang diikuti dengan obstruksi usus akut.
  4. Konstruksi ringan, enterokolitis dengan diare, distensi abdomen dan demam. Diare berbau busuk dapat menjadi satu-satunya gejala.
  5. Gejala hanya konstipasi ringan.

(Mansjoer, 2000 : 380)

  • Masa Neonatal :
  1. Gagal mengeluarkan mekonium dalam 48 jam setelah lahir.
  2. Muntah berisi empedu.
  3. Enggan minum.
  4. Distensi abdomen.
  • Masa bayi dan anak-anak :
  1. Konstipasi
  2. Diare berulang
  3. Tinja seperti pita, berbau busuk
  4. Distensi abdomen
  5. Gagal tumbuh(Betz, 2002 : 197)
  1. Komplikasi
    1. Gawat pernapasan (akut)
    2. Enterokolitis (akut)
    3. Striktura ani (pasca bedah)
    4. Inkontinensia (jangka panjang)

(Betz, 2002 : 197)

  1. Obstruksi usus
  2. Ketidak seimbangan cairan dan elektrolit
  3. Konstipasi

(Suriadi, 2001 : 241)

  1. Pemeriksaan Diagnostik
  1. Biopsi isap, yakni mengambil mukosa dan submukosa dengan alat penghisap and mencari sel ganglion pada daerah submukosa.
  2. Biopsy otot rectum, yakni pengambilan lapisan otot rectum, dilakukan dibawah narkos. Pemeriksaan ini bersifat traumatic.
  3. Pemeriksaan aktivitas enzim asetilkolin dari hasil biopsy asap. Pada penyakit ini klhas terdapat peningkatan aktivitas enzim asetikolin enterase.
  4. Pemeriksaan aktivitas norepinefrin dari jaringan biopsy usus.

(Ngatsiyah, 1997 : 139)

  1. Foto abdomen ; untuk mengetahui adanya penyumbatan pada kolon.
  2. Enema barium ; untuk mengetahui adanya penyumbatan pada kolon.
  3. Biopsi rectal ; untuk mendeteksi ada tidaknya sel ganglion.
  4. Manometri anorektal ; untuk mencatat respons refleks sfingter interna dan eksterna.

(Betz, 2002 : 197).

  1. Penatalaksanaan

Pembedahan hirschsprung dilakukan dalam 2 tahap, yaitu dilakukan kolostomi loop atau double-barrel sehingga tonus dan ukuran usus yang dilatasi dan hipertropi dapat kembali normal (memerlukan waktu 3-4 bulan), lalu dilanjutkan dengan 1 dari 3 prosedur berikut :

  1. Prosedur Duhamel            :Penarikan kolon normal kearah bawah dan menganastomosiskannya dibelakang usus aganglionik.
  2. Prosedur Swenson            : Dilakukan anastomosis end to end pada kolon berganglion dengan saluran anal yang dibatasi.
  3. Prosedur saave      : Dinding otot dari segmen rektum dibiarkan tetap utuh. Kolon yang bersaraf normal ditarik sampai ke anus.
  4. Intervensi bedah

Ini terdiri dari pengangkatan ari segmen usus aganglionik yang mengalami obstruksi. Pembedahan rekto-sigmoidektomi dilakukan teknik pull-through dapat dicapai dengan prosedur tahap pertama, tahap kedua atau ketiga, rekto sigmoidoskopi di dahului oleh suatu kolostomi. Kolostomi ditutup dalam prosedur kedua.

  1. Persiapan prabedah
    1. Lavase kolon
    2. Antibiotika
    3. Infuse intravena
    4. Tuba nasogastrik
    5. Perawatan prabedah rutin
    6. Pelaksanaan pasca bedah
      1. Perawatan luka kolostomi
      2. Perawatan kolostomi
      3. Observasi distensi abdomen, fungsi kolostomi, peritonitis dan peningkatan suhu.
      4. Dukungan orangtua, bahkan kolostomi sementara sukar untuk diterima. Orangtua harus belajar bagaimana menangani anak dengan suatu kolostomi. Observasi apa yang perlu dilakukan bagaimana membersihkan stoma dan bagaimana memakaikan kantong kolostomi.(Betz, 2002 : 198)
  1. B.     ASUHAN KEPERAWATAN HIRSPRUNG
  1. I.       Pengkajian
  2. Informasi identitas/data dasar meliputi, nama, umur, jenis kelamin, agama, alamat, tanggal pengkajian, pemberi informasi.
  3. Keluhan utama

Masalah yang dirasakan klien yang sangat mengganggu pada saat dilakukan pengkajian, pada klien Hirschsprung misalnya, sulit BAB, distensi abdomen, kembung, muntah.

  1. Riwayat kesehatan sekarang

Yang diperhatikan adanya keluhan mekonium keluar setelah 24 jam setelah lahir, distensi abdomen dan muntah hijau atau fekal.

Tanyakan sudah berapa lama gejala dirasakan pasien dan tanyakan bagaimana upaya klien mengatasi masalah tersebut.

  1. Riwayat kesehatan masa lalu

Apakah sebelumnya klien pernah melakukan operasi, riwayat kehamilan, persalinan dan kelahiran, riwayat alergi, imunisasi.

  1. Riwayat Nutrisi meliputi : masukan diet anak dan pola makan anak.
  2. Riwayat psikologis

Bagaimana perasaan klien terhadap kelainan yang diderita apakah ada perasaan rendah diri atau bagaimana cara klien mengekspresikannya.

  1. Riwayat kesehatan keluarga

Tanyakan pada orang tua apakah ada anggota keluarga yang lain yang menderita Hirschsprung.

  1. Riwayat social

Apakah ada pendakan secara verbal atau tidak adekuatnya dalam mempertahankan hubungan dengan orang lain.

  1. Riwayat tumbuh kembang

Tanyakan sejak kapan, berapa lama klien merasakan sudah BAB.

  1. Riwayat kebiasaan sehari-hari

Meliputi – kebutuhan nutrisi, istirahat dan aktifitas.

Pemeriksaan Fisik

  1. Sistem integument

Kebersihan kulit mulai dari kepala maupun tubuh, pada palpasi dapat dilihat capilary refil, warna kulit, edema kulit.

  1. Sistem respirasi

Kaji apakah ada kesulitan bernapas, frekuensi pernapasan

  1. Sistem kardiovaskuler

Kaji adanya kelainan bunyi jantung (mur-mur, gallop), irama denyut nadi apikal, frekuensi denyut nadi / apikal.

  1. Sistem penglihatan

Kaji adanya konjungtivitis, rinitis pada mata

  1. Sistem Gastrointestinal

Kaji pada bagian abdomen palpasi adanya nyeri, auskultasi bising usus, adanya kembung pada abdomen, adanya distensi abdomen, muntah (frekuensi dan karakteristik muntah) adanya keram, tendernes.

  1. II.                Diagnosa Keperawatan

Pre operasi

  1. Gangguan eliminasi BAB : obstipasi berhubungan dengan spastis usus dan tidak adanya daya dorong.
  2. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang inadekuat.
  3. Kekurangan cairan tubuh berhubungan muntah dan diare.
  4. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan adanya distensi abdomen.

Post operasi

  1. Gangguan integritas kulit b/d kolostomi dan perbaikan pembedahan
  2. Nyeri b/d insisi pembedahan
  3. Kurangnya pengetahuan b/d kebutuhan irigasi, pembedahan dan perawatan kolostomi.
    1. III.             Intervensi Keperawatan

Pre operasi

  1. 1.            Gangguan eliminasi BAB : obstipasi berhubungan dengan spastis usus dan tidak adanya daya dorong.

Tujuan : klien tidak mengalami ganggguan eliminasi dengan kriteria defekasi normal, tidak distensi abdomen.

Intervensi :

  1. Monitor cairan yang keluar dari kolostomi.

Rasional : Mengetahui warna dan konsistensi feses dan menentukan rencana selanjutnya

  1. Pantau jumlah cairan kolostomi.

Rasional : Jumlah cairan yang keluar dapat dipertimbangkan untuk penggantian cairan

  1. Pantau pengaruh diet terhadap pola defekasi.

Rasional : Untuk mengetahui diet yang mempengaruhi pola defekasi terganggu.

  1. 2.            Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang inadekuat.

Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan kriteria dapat mentoleransi diet sesuai kebutuhan secara parenteal atau per oral.

Intervensi :

  1. Berikan nutrisi parenteral sesuai kebutuhan.

Rasional : Memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan

  1. Pantau pemasukan makanan selama perawatan.

Rasional : Mengetahui keseimbangan nutrisi sesuai kebutuhan 1300-3400 kalori

  1. Pantau atau timbang berat badan.

Rasional : Untuk mengetahui perubahan berat badan

  1. 3.            Kekurangan cairan tubuh berhubungan muntah dan diare.

Tujuan : Kebutuhan cairan tubuh terpenuhi dengan kriteria tidak mengalami dehidrasi, turgor kulit normal.

Intervensi :

  1. Monitor tanda-tanda dehidrasi.

Rasional : Mengetahui kondisi dan menentukan langkah selanjutnya

  1. Monitor cairan yang masuk dan keluar.

Rasional : Untuk mengetahui keseimbangan cairan tubuh

  1. Berikan caiaran sesuai kebutuhan dan yang diprograrmkan.

Rasional : Mencegah terjadinya dehidrasi

  1. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan adanya distensi abdomen.

Tujuan : Kebutuhan rasa nyaman terpenuhi dengan kriteria tenang, tidak menangis, tidak mengalami gangguan pola tidur.

Intervensi :

  1. Kaji terhadap tanda nyeri.

Rasional : Mengetahui tingkat nyeri dan menentukan langkah selanjutnya

  1. Berikan tindakan kenyamanan : menggendong, suara halus, ketenangan.

Rasional : Upaya dengan distraksi dapat mengurangi rasa nyeri

  1. Kolaborsi dengan dokter pemberian obat analgesik sesuai program.

Rasional : Mengurangi persepsi terhadap nyeri yamg kerjanya pada sistem saraf pusat

Post operasi

  1. 1.      Gangguan integritas kulit b/d kolostomi dan perbaikan pembedahan

Tujuan :memberikan perawatan perbaikan kulit setelah dilakukan operasi

  1. kaji insisi pembedahan, bengkak dan drainage.
  2. Berikan perawatan kulit untuk mencegah kerusakan kulit.
  3. Oleskan krim jika perlu.
  4. 2.      Nyeri b/d insisi pembedahan

Tujuan :Kebutuhan rasa nyaman terpenuhi dengan kriteria tenang, tidak menangis, tidak mengalami gangguan pola tidur.

  1. Observasi dan monitoring tanda skala nyeri.

Rasional : Mengetahui tingkat nyeri dan menentukan langkah selanjutnya

  1. Lakukan teknik pengurangan nyeri seperti teknik pijat punggung dansentuhan.

Rasional : Upaya dengan distraksi dapat mengurangi rasa nyeri

  1. Kolaborasi dalam pemberian analgetik apabila dimungkinkan.

Rasional : Mengurangi persepsi terhadap nyeri yamg kerjanya pada sistem saraf pusat

  1. 3.      Kurangnya pengetahuan b/d kebutuhan irigasi, pembedahan dan perawatan kolostomi.

Tujuan : pengetahuan keluarga pasien tentang cara menangani kebutuhan irigasi, pembedahan dan perawatan kolostomi tambah adekuat.

Intervensi :

  1. Kaji tingkat pengetahuan tentang kondisi yang dialami perawatan di rumah dan pengobatan.
  2. Ajarkan pada orang tua untuk mengekspresikan perasaan, kecemasan dan perhatian tentang irigasi rectal dan perawatan ostomi.
  3. Jelaskan perbaikan pembedahan dan proses kesembuhan.
  4. Ajarkan pada anak dengan membuat gambar-gambar sebagai ilustrasi misalnya bagaimana dilakukan irigasi dan kolostomi.
  5. Ajarkan perawatan ostomi segera setelah pembedahan dan lakukan supervisi saat orang tua melakukan perawatan ostomi.
    1. Evaluasi

Pre operasi Hirschsprung

  1. Pola eliminasi berfungsi normal
  2. Kebutuhan nutrisi terpenuhi
  3. Kebutuhan cairan dapat terpenuhi
  4. Nyeri pada abdomen teratasi

Post operasi Hirschsprung

  1. Integritas kulit lebih baik
  2. Nyeri berkurang atau hilang
  3. Pengetahuan meningkat tentang perawatan pembedahan terutama pembedahan kolon

BAB III

PENUTUP

 

  1. KESIMPULAN

Penyakit hisprung merupakan penyakit yang sering menimbulkan masalah. Baik masalah fisik, psikologis maupun psikososial. Masalah pertumbuhan dan perkembangan anak dengan penyakit hisprung yaitu terletak pada kebiasaan buang air besar. Orang tua yang mengusahakan agar anaknya bisa buang air besar dengan cara yang awam akan menimbulkan masalah baru bagi bayi/anak. Penatalaksanaan yang benar mengenai penyakit hisprung harus difahami dengan benar oleh seluruh pihak. Baik tenaga medis maupun keluarga. Untuk tecapainya tujuan yang diharapkan perlu terjalin hubungan kerja sama yang baik antara pasien, keluarga, dokter, perawat maupun tenaga medis lainnya dalam mengantisipasi kemungkinan yang terjadi.

  1. SARAN

Kami berharap setiap mahasiswa mampu memahami dan mengetahui tentang penyakit hsaprung. Walaupun dalam makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan.

DAFTAR PUSTAKA

Betz, Cecily, L. Dan Linda A. Sowden 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Edisi ke-3. Jakarta : EGC.

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC

Kartono, Darmawan. 2004. Penyakit Hirschsprung. Jakarta : Sagung Seto.

Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik.Sri Kurnianingsih (Fd), Monica Ester (Alih bahasa) edisi – 4 Jakarta : EGC.

Corwin, Elizabeth J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. Alih bahasa : Brahm U Pendit. Jakarta : EGC.

Carpenito , Lynda juall. 1997 . Buku saku Diagnosa Keperawatan.Edisi ke -^. Jakarta : EGC

Staf Pengajar Ilmu kesehatan Anak . 1991. Ilmu Kesehatan Anak . Edisi Ke-2 . Jakarta : FKUI .

Mansjoer , Arif . 2000 . Kapita Selekta Kedokteran .Edisi Ke-3 . Jakarta : Media Aesulapius FKUI

ASKEP KARSINOMA SEL BASAL

BAB I

PENDAHULUAN

Karsinoma sel basal ( BCC )  atau basalioma adalah neoplasma maligna yang berasal dari sel basal epidermis ataupun sel folikel rambut sehingga dapat timbul pada kulit yang berambut.  BCC merupakan kanker kulit neomelanoma dengan insiden tertinggi dan diharapkan akan terus meningkat dengan semakin meningkatnya radiasi oleh UV di bumi.  Biasanya terjadi pada daerah yang terekspos matahari meskipun daerah yang tertutup juga meningkat risikonya. Hidung atau “ daerah T “ pada wajah merupakan tempat predileksi untuk terjadinya BCC.

BCC tumbuh lambat meskipun pada keadaan “lanjut” dapat menginvasi jaringan sekitar, seperti kartilago, tulang, dan menyebabkan “ kecacatan “. BCC jarang metastasis, dikatakan metastasis terjadi kurang dari 0,05 % kasus ( Feig et al., 2006 ).

Meskipun karsinoma sel basal jarang metastasizes, tumbuh secara lokal dengan invasi dan penghancuran jaringan lokal.  Kanker dapat menimpa pada struktur vital seperti saraf dan mengakibatkan hilangnya sensasi atau hilangnya fungsi kematian atau jarang. Sebagian besar kasus dapat berhasil diobati sebelum terjadi komplikasi serius.

Setiap tahun antara 900.000 dan 1,2 juta kasus baru kanker kulit non-melanoma akan didiagnosis di Amerika Serikat. Ini terjadi peningkatan sekitar lebih tinggi setengah juta setiap tahun daripada perkiraan sebelumnya. Berdasarkan hasil statistik baru ini satu dari 5 penduduk Amerika akan mengalami kanker kulit jenis non-melanoma dalam masa kehidupannya. Melanoma maligna yakni penyebab kematian terbesar pada bentuk kanker kulit sedang mengalami peningkatan lebih cepat dibandingkan dengan beberapa jenis kanker lainnya. Diperkirakan 32.000 kasus baru akan didiagnosis per tahun atau sekitar 1 dari 105 penduduk orang Amerika akan berkembang mengalami melanoma pada kehidupan mereka. Para ahli dari universitas setuju bahwa alasan utama yang menjadi penyabab cepatnya peningkatan kasus kanker kulit ini di Amerika serikat adalah kecintaan masyarakat Amerika dengan matahari (berjemur). Selain adanya peningkatan ini, kanker kulit tetap menjadi salah satu bentuk kanker yang paling dapat disembuhkan,dengan hanya sekitar 2.500 kasus meninggal setiap tahunnya dengan jenis kanker kulit non-melanoma dan sekitar 6.900 meninggal per tahun karena kanker kulit melanoma.

BAB II

KONSEP DASAR

A.    Definisi

Karsinoma sel basal ( BCC )  atau basalioma adalah neoplasma maligna yang berasal dari sel basal epidermis ataupun sel folikel rambut sehingga dapat timbul pada kulit yang berambut (Manuaba, 2010 ).

Karsinoma sel basal merupakan suatu tumor ganas kulit yang berasal dari pertumbuhan neoplastik sel basal epidermis dan apendiks kulit ( Harahap, 2000 ).

B.     Epidemiologi

Setiap tahun antara 900.000 dan 1,2 juta kasus baru kanker kulit non-melanoma akan didiagnosis di Amerika Serikat. Ini terjadi peningkatan sekitar lebih tinggi setengah juta setiap tahun daripada perkiraan sebelumnya. Berdasarkan hasil statistik baru ini satu dari 5 penduduk Amerika akan mengalami kanker kulit jenis non-melanoma dalam masa kehidupannya. Melanoma maligna yakni penyebab kematian terbesar pada bentuk kanker kulit sedang mengalami peningkatan lebih cepat dibandingkan dengan beberapa jenis kanker lainnya. Diperkirakan 32.000 kasus baru akan didiagnosis per tahun atau sekitar 1 dari 105 penduduk orang Amerika akan berkembang mengalami melanoma pada kehidupan mereka. Para ahli dari universitas setuju bahwa alasan utama yang menjadi penyabab cepatnya peningkatan kasus kanker kulit ini di Amerika serikat adalah kecintaan masyarakat Amerika dengan matahari (berjemur). Selain adanya peningkatan ini, kanker kulit tetap menjadi salah satu bentuk kanker yang paling dapat disembuhkan,dengan hanya sekitar 2.500 kasus meninggal setiap tahunnya dengan jenis kanker kulit non-melanoma dan sekitar 6.900 meninggal per tahun karena kanker kulit melanoma ( Danielle, 2000 ).

C.    Stadium  Klinis

Menurut Stadium Clarke I-V, kriteria berdasarkan ketebalan tumor :

Stadium Clarke Ketahanan 5 tahun ( % ) Ketebalan tumor ( mm )
I ( Epidermis ) 100 < 0,76
II ( dermis papiler ) 90-10 0,76 – 1,49
III ( dermis papiler/retikuler ) 80 – 90 1,50 – 2,49
IV ( dermis retikuler ) 60 – 70 2,50 – 3,99
V ( lemak subkutan ) 15 – 30 4,00 – 7,99

> 8,00

( Grace, 2006 )

D.    Klasifikasi Histopatologi

a.    Nodular BCC : tipe klasik, berbentuk “pink” nodul (pada kulit putih ), pada kulit bewarna akan terjadi pingmentasi, “pearly” dan kadang terjadiulserasi.

b.    Superficial BCC : banyak dijumpai pada ekstremitas atau daerah yang terkena eksposur sinar matahari, ber-squama (scaly) sering sulit dibedakan dengan SCC ataupun Bowen disease.

c.    Sclerosing or Morphea Form BCC : jarang dijumpai, dan berbentuk nodul yang induratif dan tidak terbatas jelas, sering didiagnosa sebagai jaringan “parut”

d.   Pigmented BCC : mungkin merupakan varian dari nodular BCC

e.    Cystic BCC  : jaringan sekali dijumpai

f.     Fibroepithelioma of Pinkus (PEP) : varian yang jarang dijumpai

( Manuaba, 2010 )

E.     Etiologi

Kanker kulit telah menyebabkan banyak potensi, ini meliputi:

1.    Penelitian telah menunjukkan bahwa merokok tembakau dan produk-produk terkait dapat melipatgandakan risiko kanker kulit.

2.    Overexposure untuk UV-radiasi dapat menyebabkan kanker kulit baik melalui kerusakan DNA langsung atau melalui mekanisme DNA kerusakan tidak langsung. Overexposure (pembakaran) UVA & UVB memiliki keduanya telah terlibat dalam menyebabkan kerusakan DNA mengakibatkan kanker. kekuatan Sun 10:00-4:00 paling intens. Alam (matahari) & UV paparan buatan (tanning salon) yang kemungkinan terkait dengan kanker kulit. UVB terutama mempengaruhi epidermis menyebabkan sunburns, kemerahan, dan terik kulit saat overexposed. Melanin dari epidermis diaktifkan dengan UVB sama dengan UVA, namun efek yang lebih tahan lama dengan pigmentasi terus selama 24 jam.

3.    Kronis non-penyembuhan luka, terutama luka bakar. Ini disebut tukak Marjolin didasarkan pada penampilan mereka, dan dapat berkembang menjadi karsinoma sel skuamosa.

4.    Predisposisi genetik, termasuk “bawaan Melanocytic Nevi Syndrome”. CMNS dicirikan oleh adanya “Nevi” atau mol dengan ukuran berbeda yang baik muncul pada atau dalam 6 bulan kelahiran. Nevi lebih besar dari 20 mm (3 / 4) dalam ukuran berada pada risiko tinggi untuk menjadi kanker.

5.    Paparan arsenik,. Arsenik logam beracun yang ditemukan secara luas di lingkungan, meningkatkan risiko karsinoma sel basal dan kanker lainnya. Setiap orang memiliki beberapa paparan arsenik karena terjadi secara alami di udara, tanah dan air tanah. Tetapi orang-orang yang mungkin terekspos pada tingkat yang lebih tinggi dari arsenik termasuk petani, pekerja kilang, dan orang yang minum air sumur yang tercemar atau tinggal di dekat pabrik peleburan.

6.    Warisan sindrom yang menyebabkan kanker kulit. tertentu penyakit genetik yang langka meningkatkan risiko karsinoma sel basal. Nevoid karsinoma sel basal (Gorlin-Goltz sindrom) menyebabkan karsinoma basal sel banyak, serta pitting di tangan dan kaki dan kelainan tulang belakang. pigmentosum xeroderma menyebabkan kepekaan ekstrim untuk sinar matahari dan resiko tinggi kanker kulit karena orang dengan kondisi ini memiliki kemampuan sedikit atau tidak untuk memperbaiki kerusakan pada kulit dari sinar ultraviolet.

( www.news-medical.net )

F.     Patofisiologi

Radiasi sinar ultraviolet adalah penyebab paling umum dari kanker kulit baik yang melanoma maupun yang non melanoma. Berdasarkan percobaan yang dilakukan oleh binatang, sinar ultraviolet dengan panjang gelombang yang paling efektif adalah UVB. Hal ini disebabkan oleh karena kemampuan dari UVB itu sendiri untuk menembus kedalam lapisan ozon dan juga startum korneum yang akhirnya akan diabsorbsi oleh DNA. Langkah pertama dari proses karsinogenik ini adalah penginduksian DNA oleh photon UVB. Photon UVB ini biasanya akan diabsorbsi pada 5 – 6 ikatan dobel dari pyrimidine, yang akan menyebabkan terbukanya ikatan tersebut. Sebagai hasilnya akan terbentuk cyclobutane dimmer atau pyrimidine-pyrimidone photoproduct. Keduanya menyebabkan struktur DNA yang abnormal.

Pada saat terjadi replikasi DNA, DNA polymerase sering salah memasukkan cytosine yang telah rusak berseberangan dengan thymine. Mutasi ini muncul hanya apabila cytosine berada berseberangan dengan thymine atau dengan cytosine yang lain, yang merefleksikan sisi spesifik dimana photoproduct UV muncul. Dua gen yang secara normal dapat mencegah terjadinya kanker akan tetapi menjadi tidak aktif pada kanker kulit adalah PTCH dan P53. PTCH yang merupakan komponen dari jalur signal seluler, bermutasi pada sekitar 90% dari BCC. Sedangkan P53 yang mengkode regulator dari siklus sel dan kematian sel bermutasi bermutasi pada sekitar setengah dari BCC dan lebih dari 90% SCC.

Aspek terpenting dari basalioma adalah bahwa kanker kulit ini terdiri dari sel tumor epithelial berasal dari sel primitive selubung akar rambut sementara komponen stroma menyerupai lapisan papilaris dermis dan terdiri dari kolagen, fibroblast dan subtansia dasar yang sebagian besar berupa berbagai jenis glukosa aminoglikans (GAGs). Kedua komponen ini saling ketergantungan sehingga tidak bisa berkembang tanpa komponen yang lainnya. Hubungan ketergantungan ini sifatnya sangat unik, hal inilah yang dapat menjelaskan mengapa basalioma sangat jarang bermetastase dan mengapa pertumbuhan basalioma pada kultur sel dan jaringan sangat sulit terjadi. Hal ini dikarenakan bolus metastase yang besar dengan komponen sel dan stroma didalamnya sulit memasuki system limfatik ataupun system vascular. Dan inilah yang membedakan antara basalioma dengan melanoma maligna dan karsinoma sel skuamosa yang keduanya sering mengadakan metastase.

Dianggap berasal dari sel-sel pluripotensial (sel yang dapat berubah menjadi sel-sel lain) yang ada pada stratum basalis epidermis atau lapisan follikuler. Sel ini diproduksi sepanjang hidup kita dan membentuk kelenjar sebacea dan apokrin. Tumor tumbuh dari epidermis dan muncul dibagian luar selubung akar rambut, khususnya dan stem sel folikel rambut, tepat dibawah duktus glandula sebacea.

Sinar ultraviolet menginduksi mutasi pada gen suppressor tumor p53, yang terletak pada kromosom 17p. Sebai tambahan mutasi gen suppressor tumor pada lokus 9q22 yang menyebabkan sindrom nevoid basalioma, suatu keadaan autosomal dominan ditandai dengan timbulnya basalioma secara dini. Mutasi pada gen supresi tumor p53 ditemukan dalam hampir 50% kasus karsinoma sel basal secara sporadic.

Kebanyakan dari mutasi ini adalah translasi dari C → T dan CC → TT pada susunan dipyrimidine, yang merupakaan mutasi khas yang mengindikasikan bahwa adanya paparan terhadap radiasi ultraviolet B. Akhir-akhir ini terdapat nucleus β-catenin yang menunjukkkan hubungannya dengan peningkatan proliferasi sel tumor. Fungsi spesifik dari gen-gen ini masih belum diketahui.

( ilmubedah.info )


 

G.    Manifestasi  Klinis

Bagian tubuh yang terserang kanker sel basal biasanya wajah, leher dan kulit kepala. Adapun tanda-tanda penyakit kanker berjenis ini adalah benjolan yang agak berkilat, kemerahan dengan pinggir meninggi yang berwarna agak kehitaman, kelainan seperti jaringan parut dan lecet/lika yang tidak sembuh-sembuh.

H.    Pemeriksaan Penunjang

1.    Foto polos ( X-ray ) terutama pada lesi BCC yang besar dan luas untuk melihat adanya inflitrasi sel tumor pada tulang di bawahnya.

2.    CT Scan untuk melihat luas destruksi tulang, operabilitas dan perencanaan pembedahan.

I.       Pemeriksaan Klinis

1.    Anamnesis

Dikeluhkan adanya lesi kulit seperti ‘’tahi lalat’’ yang berubah warnanya, gatal, nyeri, berdarah, membesar atau timbul “tukak” atau ulkus. Kadang disebut sebagai “borok” yang tidak sembuh-sembuh .

2.    Pemeriksaan Fisik

Gambaran klinis dikenal sebagai ulkus Rodent, yaitu ulkus dengan satu sisi berbentuk tidak rata, seakan –akan seperti gambaran “ gigitan rodent/tikus”. Biasanya seperti adanya hiperpigmentasi pada bagian tepi dan ulkus di tengah.

Bentuk klinis yang dijumpai pada BCC adalah :

a.       Jenis nodulo-ulseratif (paling seringm : mula-mula berbentuk papul (papula) meninggi, “pearly” atau permukaan mengilat seperti “mutiara”, sering terdapat telengiectasi disentral yang biasanya mengalami ulseratif. Kadang berskuama halus dan berkrusta tipis  dan tumbuh lambat.

b.      Jenis berpigmen : gambaran sama nodulo-ulseratif hanya bewarna coklat hitam, berbintik dan homogen.

c.       Jenis morphea liek atau fibrosis jarang : bentuk “plakat”, kekuningan, tepi tidak jelas, kadang meninggi. Pada pada permukaan tampak beberapa folikel rambut yang konkaf dan membentuk jaringan seperti sikratriks, dan kadang tertutup krusta. Ulserasi jarang.

d.      Jenis superficial : lokasi pada kepala, leher, badan berupa bercak kemerahan, berskuamosa halus, tepi sedikit meninggi. Tumbuh dan meluas secara lambat, ulserasi. Sering dijumpai multiple terutama pada pasien berkulit putih.

e.       Jenis fibro-epitelial : Sering dijumpai dipunggung, soliter, bernodul padat, bertangkai pendek, permukaan halus sedikit kemerahan seperti fibroma.

f.       Nevoid Basal Cell Syndrome (Sindroma Gortin Galzt)

g.      Sindroma Xeroderma Pigmentosum.

h.      Jenis linear and generalized follicular basal cell nevi.

i.        Jenis generalized follicular  : disertai kerontokan rambut sebagai akibat kerusakan folikel rambut karena pertumbuhan tumor.

j.        Albinism : sensitif terhadap UV (tidak adanya “melanin” perlindung kulit ) mudah terjadi BCC, SCC ataupun melanoma.

( Manuaba, 2010 )

J.      Komplikasi

1.    Sebuah risiko kekambuhan karsinoma basal. Sel umumnya kambuh. Bahkan setelah pengobatan berhasil, mereka mungkin kambuh, sering di tempat yang sama.

2.    Peningkatan risiko jenis lain kanker kulit. Sebuah sejarah karsinoma sel basal juga dapat meningkatkan kemungkinan mengembangkan jenis lain kanker kulit, seperti karsinoma sel skuamosa dan melanoma.

3.    Kanker yang menyebar di luar kulit. Langka, bentuk agresif karsinoma sel basal dapat menyerang dan merusak otot di dekatnya, saraf dan tulang. Sangat jarang, karsinoma sel basal dapat menyebar ke area lain dari tubuh.

( http://www.mayoclinic.com )

K.    Penatalaksanaan

Penggunaan agen kemoterapi seperti 5-Fluorourasil atau Imiquimod, dapat mencegah perkembangan kanker kulit. Hal ini biasanya dianjurkan untuk individu dengan kerusakan akibat sinar matahari yang luas, sejarah kanker kulit beberapa, atau pertumbuhan prekanker. Hal ini sering diulang setiap 2 sampai 3 tahun untuk lebih mengurangi risiko kanker kulit.

Metode berikut ini digunakan dalam pengobatan karsinoma sel basal (BCC) :

1.         Standar bedah eksisi

Tingkat obat untuk metode ini, baik yang dilakukan oleh dokter ahli bedah plastik, dokter keluarga, atau dokter kulit benar-benar tergantung pada margin bedah. Ketika margin bedah standar diterapkan (biasanya 4 mm atau lebih), tingkat kesembuhan tinggi dapat dicapai dengan eksisi standar dermatoscope A dapat membantu ahli bedah yang berpengalaman dapat mengidentifikasi tumor tidak bisa dilihat oleh mata telanjang. Semakin sempit margin bedah ( terlihat kulit dengan tumor yang bebas dibuang ) semakin tinggi tingkat kekambuhan. Kelemahan dengan eksisi bedah standar adalah tingkat kekambuhan tinggi kanker sel basal dari wajah, terutama di sekitar kelopak mata, hidung, dan struktur wajah. Sebuah diagram pada halaman 33 dari publikasi NCCN menunjukkan daerah risiko tinggi kambuh karena kebanyakan wajah dengan pengecualian pada pipi pusat dan dahi atas) menggunakan bagian histologi yang dibekukan.

2.         Mohs pembedahan (atau Mohs operasi mikrografi)

Mohs pembedahan (atau Mohs operasi mikrografi) adalah prosedur rawat jalan di mana tumor pembedahan dipotong dan kemudian segera diperiksa di bawah mikroskop. Ini adalah bentuk pengolahan patologi yang disebut CCPDMA. Hal ini diklaim memiliki tingkat penyembuhan tertinggi 97% menjadi 99,8% oleh beberapa individu. Dasar dan ujung-ujungnya mikroskopis diperiksa untuk memverifikasi margin yang cukup sebelum bedah perbaikan situs. Jika margin tidak cukup, lebih akan dihapus dari pasien sampai margin yang cukup. Hal ini juga digunakan untuk karsinoma sel skuamosa, namun, tingkat penyembuhan tidak setinggi operasi Mohs untuk karsinoma sel basal.

3.         Kemoterapi

Beberapa kanker dangkal menanggapi terapi lokal dengan 5-fluorouracil, agen kemoterapi. pengobatan topikal dengan krim Imiquimod 5%, dengan lima aplikasi per minggu selama enam minggu memiliki tingkat dilaporkan 70-90% keberhasilan untuk mengurangi bahkan menghilangkan karsinoma sel BCC.

4.         Imunoterapi

Imunoterapi penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan menggunakan peplus Euphorbia, gulma kebun yang umum, mungkin efektif. perusahaan Australia Peplin biofarmasi adalah mengembangkan pengobatan topikal untuk BCC. Imiquimod atau Aldara adalah sebuah immunotherapy tetapi yang tercantum di sini di bawah kemoterapi.

5.         Radiasi

Terapi radiasi yang sesuai untuk semua bentuk BCC sebagai dosis memadai akan memberantas penyakit tersebut. Terapi radiasi dapat disampaikan baik sebagai sinar radioterapi eksternal atau sebagai brachytherapy (radioterapi internal). Meskipun radioterapi umumnya digunakan pada pasien yang lebih tua yang tidak kandidat untuk operasi, itu juga digunakan dalam kasus-kasus di mana eksisi bedah akan menodai atau sulit untuk merekonstruksi (terutama pada ujung hidung, dan rims lubang hidung). pengobatan Radiasi sering mengambil sesedikit 5 kunjungan ke sebanyak 25 kunjungan untuk terapi radiasi. Biasanya, kunjungan lebih dijadwalkan untuk terapi, komplikasi kurang atau kerusakan yang dilakukan terhadap jaringan normal yang mendukung tumor. Cure rate bisa setinggi 95% untuk tumor kecil, atau serendah 80% untuk tumor yang besar. Biasanya, tumor berulang setelah radiasi diperlakukan dengan operasi, dan tidak dengan radiasi. perlakuan radiasi lebih lanjut lebih lanjut akan merusak jaringan normal, dan tumor mungkin resisten terhadap radiasi lebih lanjut.

6.         Terapi Photodynamic

Terapi Photodynamic adalah modalitas baru untuk pengobatan karsinoma sel basal, yang dikelola oleh aplikasi photosensitizers ke daerah sasaran. Ketika molekul ini diaktifkan oleh cahaya, mereka menjadi beracun, sehingga menghancurkan sel target. Metil aminolevulinate disetujui oleh Uni Eropa sebagai fotosensitizer sejak tahun 2001. Terapi ini juga digunakan dalam jenis kanker kulit lainnya.

7.         Cryosurgery

Cryosurgery adalah suatu modalitas tua untuk pengobatan kanker kulit banyak. Ketika akurat digunakan dengan probe temperatur dan instrumen cryotherapy, dapat menghasilkan angka kesembuhan sangat baik. Kekurangan termasuk kurangnya kontrol margin, nekrosis jaringan, atas atau di bawah pengobatan tumor, dan waktu pemulihan yang lama. Beberapa buku diterbitkan pada terapi, dan beberapa dokter masih menerapkan perlakuan untuk pasien tertentu.

8.         Electrodessication dan kuret atau EDC

EDC dilakukan dengan menggunakan pisau bulat, atau kuret, untuk mengikis pergi kanker lembut. Kulit kemudian dibakar dengan arus listrik. Hal ini semakin melembutkan kulit, memungkinkan untuk pisau untuk memotong lebih dalam dengan lapisan berikutnya kuretase. Siklus ini berulang, dengan margin keamanan kuretase kulit normal di sekitar tumor terlihat. Siklus ini diulang 3 sampai 5 kali, dan margin kulit bebas diperlakukan biasanya 4 sampai 6 mm. Cure rate sangat banyak digunakan tergantung pada ukuran dan jenis tumor.

( http://www.news-medical.net )

L.     Pencegahan

  1. Perlindungan Sun – memakai topi bertepi lebar, UV-pelindung kacamata hitam, kemeja lengan panjang dan celana
  2. Gunakan tabir surya (SPF> 30) dan berlaku sebelum berenang atau olahraga dan ulangi setiap 2-3 jam. Tetap di bawah naungan.
  3. Monitor mencurigakan bintik-bintik atau mol. Periksa bintik-bintik atau tahi lalat yang baru, tumbuh cepat, gatal-gatal, berdarah atau perubahan warna.
  4. Temui dokter Anda jika Anda memiliki borok yang tidak sembuh.

( http://www.perthcosmeticsurgery.com.au )

 BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN KARSINOMA SEL BASAL

A.    Pengkajian

1.    BiodataPasien

a.       Data Demografi

b.      Faktor Sosial Ekonomi dan Budaya

c.       Faktor Lingkungan

2.    PolaKesehatanFungsional Gordon

a.       Riwayat keperawatan untuk pola persepsi kesehatan – penanganan kesehatan

Pola sehat – sejahtera yang dirasakan, Pengetahuan tentang gaya hidup dan berhubungan dengan sehat, Pengetahuan tentang praktik kesehatan preventif, Ketaatan pada ketentuan medis dan keperawatan.

b.      Riwayat keperawatan untuk pola nutrisi – metabolik

Pola makan biasa dan masukan cairan, Tipe makanan dan cairan, Peningkatan/penurunan berat badan, Nafsu makan, pilihan makanan.

c.       Riwayat keperawatan untuk pola eliminasi

Defekasi, berkemih, Penggunaan alat bantu, Penggunaan obat-obatan.

d.      Riwayat keperawatan untuk pola aktifitas

Pola aktivitas, latihan dan rekreasi, Kemampuan untuk mengusahakan aktivitas sehari-hari (merawat diri, bekerja, dll).

e.       Riwayat keperawatan untuk pola istirahat – tidur

Pola tidur – istirahat dalam 24 jam, Kualitas dan kuantitas tidur.

f.       Riwayat keperawatan untuk pola kognitif perseptual

Penglihatan, perasa, pembau, Kemampuan bahasa, belajar, ingatan dan pembuatan keputusan.

g.      Riwayat keperawatan untuk pola konsep diri

Sikap klien mengenai dirinya, Persepsi klien tentang kemampuannya, Pola emosional, Citra diri, identitas diri, ideal diri, harga diri dan peran diri.

h.      Riwayat keperawatan untuk pola peran / hubungan

Persepsi klien tantang pola hubungan, Persepsi klien tentang peran dan tanggung jawab.

i.        Riwayat keperawatan seksualitas / reproduksi

Kepuasan dan ketidakpuasan yang dirasakan klien terhadap seksualitasnya, Tahap dan pola reproduksi, termasukdidalamnyapenggunaanalatkontrasepsi.

j.        Riwayat keperawatan untuk koping / toleransi stress

Kemampuan mengendalian stress, Sumber pendukung.

k.      Riwayat keperawatan untuk nilai / kepercayaan

Nilai, tujuan dan keyakinan, Spiritual/agama, Konflik.

3.   PemeriksaanFisik

a.       Kepala

Rambut bersih atau kotor, warna rambut, ada lesi atau tidak

b.      Mata dantelinga

Konjungtivaanemisatautidak, pupil isokoranisokor, lubangtelingakotoratautidak

c.       Hidung

Lubang hidung sama besar atau tidak, sekitar hidung kotor atau bersih, ada polip atau tidak.

d.      Mulut

Sianosis atau tidak, sekitar mulut kotor atau bersih.

e.       Kulit

Inspeksi    : ada perubahan warna atau tidak, ada lesi, warna lesi, luas lesi, banyak area yang terkena

Palpasi      : kering atau lembab, halus atau kasar, nyeri atau tidak saat ditekan, teraba hangat atau dingin, acral dingin atau panas.

f.       Dada/jantung/paru

Paru-paru :

Inspeksi                : Bagaimanakembangkempis dada, simetrisatau

tidak

Palpasi                  : Bagaimanasterfimituskanankirisamaatautidak

Perkusi                 : Pekakseluruhlapangparuatautidak

Auskultasi            : Suaracordiustampakatautidak

Jantung :

Inspeksi                :  Ictus cordistampakatautidak

Palpasi                  : Ictus cordisterabaatautidak

Perkusi                 : Konfigurasi normal atautidak

Auskultasi            :Terdapatsuara abnormal atautidak

g.      Perut

Inspeksi                : Tidak asites

Auskultasi            : Terdengar bising usus

Palpasi                  : Ada nyeri atau tidak

Perkusi                 : kembung atau tidak

h.      Genitalia

Apakahterpasangkateteratautidak, bersihatautidak.

i.        Extremitas

Atas                      : oedem atau tidak, terpasang infus atau tidak

Bawah                  : oedem atau tidak

B.     Diagnosa Keperawatan

1.    Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan inflamasi antara dermal-epidermal sekunder akibat kanker pada kulit.

2.    Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kecacatan karena penyakit atau penanganan kanker kulit seperti reseksi pembedahan, agen kemoterapi topikal, dan/atau terapi radiasi.

3.    Koping individu tak efektif berhubungan dengan perubahan dalam integritas tubuh sekunder akibat kerusakan bentuk tubuh sekunder karena kanker kulit.

4.    Ansietas berhubungan dengan konsekuensi kanker yang menimbulkan kecacatan dan kematian.

5.    Kurang pengetahuan berhubungan dengan penanganan kanker kulit seperti pembedahan, radioterapi, dan kemoterapi topikal.

C.    Rencana Keperawatan

1.    Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan inflamasi antara dermal-epidermal sekunder akibat kanker pada kulit.

a.       Batasan karakteristik :

Gangguan jaringan epidermis dan dermis

Ada lesi primer atau sekunder

b.      Kriteria hasil :

Individu menunjukan penyembuhan jaringan progresif.

c.       Intervensi dan Rasional :

1)        Intervensi : Lindungi area permukaan kulit yang sehat.

Rasional : untuk menghindari perluasan kanker.

2)        Intervensi : Jangan gosok area yang terpajan kanker.

Rasional : menghindari terjadinya luka dan penyebaran infeksi.

3)        Intervensi : Hindarkan dari paparan sinar matahari yang terlalu lama.

Rasional : sinar matahari mempercepat pertumbuhan sel kanker.

2.    Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kecacatan karena penyakit atau penanganan kanker kulit seperti reseksi pembedahan, agen kemoterapi topikal, dan /atau terapi radiasi.

a.       Batasan Karakteristik :

Pasien mengungkapkan kekuatirannya atas reaksi atau penolakan oleh orang lain  berhubungan dengan perubahan kulit dari agen kemoterapi lokal atau terapi radiasi.

b.      Kreteria Hasil :

Mendiskusikan strategi-strategi untuk mengatasi perubahan pada citra tubuh.

c.       Intervensi dan Rasional :

1)   Intervensi : kaji penetahuan pasien terhadap adanya potensi kecacatan yang berhubungan dengan pembedahan dan/atau perubahan kulit.

Rasional : memberikan informasi untuk memformulasikan perencanaan

2)   Intervensi : pantau kemem puan pasien untuk melihat perubahan bentuk dirinya.

Rasional : ketidakmampuan untuk melihat bagian tubuh yang terkena mungkin mengindikasikan kesulitan dalam koping

3)   Intervensi : dorong pasien untuk mendiskusikan perasaan mengenai perubahan penampilan dari pembedahan.

Rasional : memberikan jalan untuk mengekspresikan emosinya.

4)   Intervensi : diskusikan pilihan untuk rekontrusi dan cara-cara untuk membuat penampilan yang kurang ini menjadi menarik misal ; dengan tata rias dan sebagainya.

Rasional : meningkatkan kotrol diri sendiri atas kehilangan

3.    Koping individu tak efektif berhubungan dengan perubahan dalam integritas tubuh sekunder akibat kerusakan bentuk tubuh sekunder karena kanker kulit.

a.       Batasan karakteristik :

Pengungkapan ketidakmampuan untuk mengatasi atau meminta bantuan atau penggunaan mekanisme pertahanan yang tiak sesuai atau ketidak mampuan memenuhi peran yang diharapkan.

b.      Kriteria hasil :

1)   Pasien akan menunjukkan minat terhadap aktivitas untuk mengisi waktu luang.

2)   Mengidentifikasikan kekuatan personal yang dapat mengembangkan koping yang efektif.

3)   Berpartisipasi dalam aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS).

c.       Intervensi dan Rasional :

1)   Intervensi : Kaji pandangan pasien terhadap kondisinya dan kesesuaiannya dengan pandangan pemberi pelayanan kesehatan.

Rasional : mengidentifikasi persepsi pasien terhadap kondisinya.

2)   Intervensi : Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.

Rasional : menghindari ketakutan dan menciptakan hubungan saling percaya, memudahkan intervensi

3)   Intervensi : Anjurkan pasien untuk mengidentifikasi gambaran perubahan peran yang realitas.

Rasional : memberikan arahan pada persepsi pasien tentang kondisi nyata yang ada saat ini.

4)   Intervensi : Bantu pasien dalam mengidentifikasi respons positif dari orang lain.

Rasional : meningkatkan perasaan berarti, memberikan penguatan yang positif.

5)   Intervensi : Libatkan sumber-sumber yang ada di rumah sakit dalam memberikan dukungan emosional untuk pasien dan keluarga.

Rasional : menciptakan suasana saling percaya, perasaan berarti, dan mengurangi kecemasan.

4.    Ansietas berhubungan dengan konsekuensi kanker yang menimbulkan kecacatan dan kematian.

a.       Batasan karakteristik :

Dimanifestasikan oleh gejala-gejala dari tiga kategori : fisiologi, emosional, dan kognitif. Gejala bervariasi dengan tingkat ansietas.

b.      Kriteria hasil :

1)   Klien mampu merencanakan strategi koping untuk situasi-situasi yang membuat stress.

2)   Klien mampu mempertahankan penampilan peran.

3)   Klien melaporkan tidak ada manifestasi kecemasan secara fisik.

4)   Tidak ada manifestasi perilaku akibat kecemasan.

c.       Intervensi dan Rasional :

1)   Intervensi : Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien.

Rasional : memudahkan intervensi.

2)   Intervensi :Kaji mekanisme koping yang digunakan pasien untuk mengatasi ansietas di masa lalu.

Rasional : mempertahankan mekanisme koping adaftif, meningkatkan kemampuan mengontrol ansietas.

3)   Intervensi :Lakukan pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan.

Rasional : pendekatan dan motivasi membantu pasien untuk mengeksternalisasikan kecemasan yang dirasakan.

4)   Intervensi :Motivasi pasien untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat ini, harapan-harapan yang positif terhadap terapy yang di jalani.

Rasional : alat untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi kecemasan.

5)   Intervensi :Berikan penguatan yang positif untuk meneruskan aktivitas sehari-hari meskipun dalam keadaan cemas.

Rasional : menciptakan rasa percaya dalam diri pasien bahwa dirinya mampu mengatasi masalahnya dan memberi keyakinan pada diri sendri yang dibuktikan dengan pengakuan orang lain atas kemampuannya.

6)   Intervensi : Sediakan informasi faktual (nyata dan benar) kepada pasien dan keluarga menyangkut diagnosis, perawatan dan prognosis.

Rasional : meningkatkan pengetahuan, mengurangi kecemasan.

5.    Kurang Pengetahuan berhubungan dengan penanganan kanker kulit seperti pembedahan, radioterapi, dan kemoterapi topikal.

a.       Batasan karakteristik :

Mengungkapkan pertanyaan atau mengkuatirkan tentang pembedahan, terapi radiasi, atau penanganan dengan kemoterapi untuk kanker kulit.

b.      Kriteria hasil :

Menyatakan tindakan perawatan diri untuk menurunkan insiden dan bertambah beratnya gejala yang berhubungan dengan pengobatan.

c.       Intervensi dan Rasional

1)   Intervensi : beritahu kapan penbedahan/terapi radiasi akan dilakukan.

Rasional : memberikan informasi yang diperlukan.

2)   Intervensi :Jelaskan tujuan dari penanganan.

Rasional : meningkatkan pemahaman terhadap pengobatan.

3)   Intervensi : ajarkan untuk menggunakan kemoterapi topikal.

Rasional : meningkatkan perawatan diri sendiri.

4)   Intervensi : beritahu kemungkinan efek samping dari pemberian obat topikal seperti iritasi kulit dan pemakaian yang tidak tepat mungkin dapat menyebabkan kulit terkelupas atau melumpuh.

Rasional : meningkatkan keamanan dari pemberian obat topikal tanpa adanya komplikasi.

5)   Intervensi : Beritahu adanya efek samping dari terapi radiasi dan tindakan perawatan diri untuk mengatasinya.

Rasional : meningkatkan perawatan diri.

BAB IV

PENUTUP

1.      Karsinoma sel basal ( BCC )  atau basalioma adalah neoplasma maligna yang berasal dari sel basal epidermis ataupun sel folikel rambut sehingga dapat timbul pada kulit yang berambut (Manuaba, 2010 ).

2.      Faktor predisposisi dan pajanan sinar matahari sangat berperan dalam perkembangan karsinoma sel basal.

3.      Diagnosa karsinoma sel basal didiagnosis berdasarkan gambaran klinis dan pemeriksaan histopatologi.

4.      Pengobatan karsinoma sel basal bertujuan untuk kesembuhan atau mencegah kemungkinan meluasnya kanker dan bertambah parahnya, sehingga mendapatkan hasil yang lebih baik.

5.      Asuhan keperawatan ditegakkan guna memenuhi proses kesembuhan klien.
 


 

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta : EGC.

Gale, Danielle. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Jakarta : EGC.

Grace, Pierce A. & Neil R. Borley. 2006. At a Glance Ilmu Bedah. Jakarta : PT Gelora Aksara Pratama.

Harahap, Marwali. 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta : Hipokrates.

Manuaba, Tjakra Wibawa. 2010. Panduan Penatalaksanaan Kanker Solid Peraboi 2010. Jakarta: Sagung Seto.

http://www.news-medical.net/health/Skin-Cancer-(Indonesian).aspx

http://www.mayoclinic.com/health/basal-cell-carcinoma

http://www.perthcosmeticsurgery.com.au/skin_cancer_melanoma_procedure.do

ASKEP GONOBLENORE

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang

 

Suatu radang konjungtiva akut dan hebat dengan disertai sekret purulen yang disebabkan kuman Neisseria Gonorhea. Gonokok terdiri dari 4 tipe, yaitu tipe 1 dan 2 yang mempunyai vili yang bersifat virulen, serta tipe 3 dan 4 yang tidak mempunyai vili yang bersifat nonvirulen, vili akan melekat pada mucosa epitel dan akan menimbulkan reaksi sedang (Yumizone.html, 11 februari 2011).

Gonoblenore adalah radang selaput lendir mata yang sangat mendadak
ditandai dengan getah mata yang bernanah yang kadang-kadang bercampur
darah yang disebabkan oleh kuman Neisseria gonoroika. Proses peradangan yang sangat mendadak pada selaput lendir mata dapat disebabkan oieh Neisseria gonoroika, yaitu kuman-kuman berbentuk bulat, yang sering menjadi penyebab uretritis (radang saluran kemih) pada pria dan vaginitis (radang kemaluan) pada wanita. Proses ini dapat menyebar ke organ di sekitarnya (Sidharta Ilyas. 2001 ).

Dan tanda vaginitis pada wanita adalah adanya getah yang keluar lewat
kemaluan bernanah. Penyakit Gonoblenore dapat terjadi secara mendadak. Masa inkubasi
(massa mulai masuknya kuman sampai timbul gejala penyakit) dapat terjadi
beberapa jam sampai 3 hari. Keluhan utamanya adalah: mata merah bengkak,
dengan getah mata seperti nanah kadang bercampur darah. Laju infeksi dapat dikurangi dengan menghindari hubungan seksual dengan sembarang orang (bukan istri atau suaminya).

Pembasmian GO (Gonokkus) dengan cepat dari individu yang terinfeksi
dengan cara diagnosa dini dan pengobatan, dan penemuan kasus dan kontak melalui pendidikan dan penyaringan penduduk yang mempunyai resiko tinggi. Proses peradangan yang sangat mendadak pada selaput lendir mata .

Proses ini juga dapat menyebar ke organ di sekitarnya yaitu saluran telur, yang lama-kelamaan dapat berakibat kemandulan. lnfeksi pada mata ini dapat terjadi karena adanya kontak langsung antara neisseria pada kemaluan dengan lapisan mata luar.

1.2  Tujuan

 

  • Untuk mengetahui pengertian, tanda dan gejala dari Gonoblenore
  • Untuk mengetahui bagaimana proses perjalanan penyakit Gonoblenore
  • Untuk menambah pemahaman tentang asuhan keperawatan pada penyakit Gonoblenore

 

1.3  Manfaat

 

  • Agar dapat mengetahui pengertian, tanda dan gejala pada dari Gonoblenore.
  • Agar dapat mengetahui bagaimana proses perjalanan penyakit Gonoblenore.
  • Agar dapat menambah pemahaman tentang asuhan keperawatan pada penyakit Gonoblenore

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

LAPORAN PENDAHULUAN PADA GONOBLENORE

2.1 Definisi

Gonoblenore adalah suatu manifestasi dari penyakit infeksi konjungtiva mata yang pengertiannya sendiri adalah radang selaput lendir mata yang sangat mendadak
ditandai dengan getah mata yang bernanah yang kadang-kadang bercampur
darah yang disebabkan oleh kuman Neisseria gonoroika (Brunner and suddarth. 2001).

2.2 Etiologi

Gonoblenore yang disebabkan kuman “Neisseria gonoroika” sangat berbahaya sebab dapat menembus kornea mata yang utuh, ini dikarenakan kuman ini mempunyai enzim-enzim penghancur yang dapat merusak (menghancurkan kornea).Biasanya dalam waktu 2-3 hari jika terlambat dalam pengobatan maka komea sudah hancur.
Jika kornea hancur maka jelas dari penglihatan akan sangat turun. Di samping itu jika tidak segera diobati maka kuman akan dapat menjalar ke seluruh isi bola mata. Jika sudah begini maka semua bola mata harus diangkat (diambil) sehingga penderita rongga
matanya akan kosong karena tidak ada isinya.

2.3 Tanda dan gejala

Penyakit Gonoblenore dapat terjadi secara mendadak. Masa inkubasi (massa mulai masuknya kuman sampai timbul gejala penyakit) dapat terjadi beberapa jam sampai 3 hari. Keluhan utamanya adalah:

  1. 1.            mata merah bengkak, dengan getah mata seperti nanah kadang bercampur darah.

Bayi urnur kurang dari 1 tahun juga bisa terkena penyakit ini, biasanya
didapatkan karena tertular oleh ibunya, pada waktu melewati jalan
lahir. Namun pada bayi ini biasanya yang kena kedua mata langsung. Bayi umur kurang dari 5 tahun bila terkena, biasanya ada kontak dengan orang tuanya. Pengobatan Gonoblenore ini harus benar-benar intensit, sebab jika tidak, dapat terjadi pecahnya kornea (Wijana, Nana. 1990).

 

2.4 Path way

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perjalanan penyakit pada orang dewasa secara umum, terdiri atas 3 stadium :

  1. 1.      Infiltratif

 Stadium Infiltratif.

  1. Berlangsung 3 – 4 hari, dimana palpebra bengkak, hiperemi, tegang, blefarospasme, disertai rasa sakit. Pada konjungtiva bulbi terdapat injeksi konjungtiva yang lembab, kemotik dan menebal, sekret serous, kadang-kadang berdarah. Kelenjar preauikuler membesar, mungkin disertai demam. Pada orang dewasa selaput konjungtiva lebih bengkak dan lebih menonjol dengan gambaran hipertrofi papilar yang besar. Gambaran ini adalah gambaran spesifik gonore dewasa. Pada umumnya kelainan ini menyerang satu mata terlebih dahulu dan biasanya kelainan ini pada laki-laki didahului pada mata kanannya (www.Asuhan-keperawatan-askep-infeksi Gonoblenorea .html)
  1. 2.          Stadium Supurativa/Purulenta.

Berlangsung 2 – 3 minggu, berjalan tak begitu hebat lagi, palpebra masih bengkak, hiperemis, tetapi tidak begitu tegang dan masih terdapat blefarospasme. Sekret yang kental campur darah keluar terus-menerus. Pada bayi biasanya mengenai kedua mata dengan sekret kuning kental, terdapat pseudomembran yang merupakan kondensasi fibrin pada permukaan konjungtiva. Kalau palpebra dibuka, yang khas adalah sekret akan keluar dengan mendadak (memancar muncrat), oleh karenanya harus hati-hati bila membuka palpebra, jangan sampai sekret mengenai mata pemeriksa .

  1. 3.         Stadium Konvalesen (penyembuhan).

Berlangsung 2 – 3 minggu, berjalan tak begitu hebat lagi, palpebra sedikit bengkak, konjungtiva palpebra hiperemi, tidak infiltratif. Pada konjungtiva bulbi injeksi konjungtiva masih nyata, tidak kemotik, sekret jauh berkurang.

Pada neonatus infeksi konjungtiva terjadi pada saat berada pada jalan kelahiran, sehingga pada bayi penyakit ini ditularkan oleh ibu yang sedang menderita penyakit tersebut. Pada orang dewasa penyakit ini didapatkan dari penularan penyakit kelamin sendiri.

Pada neonatus, penyakit ini menimbulkan sekret purulen padat dengan masa inkubasi antara 12 jam hingga 5 hari, disertai perdarahan sub konjungtiva dan konjungtiva kemotik.

2.5 klasifikasi

  • Penyakit ini dapat mengenai bayi berumur 1 – 3 hari, disebut oftalmia neonatorum, akibat infeksi jalan lahir.
  • Dapat pula mengenai bayi berumur lebih dari 10 hari atau pada anak-anak yang disebut konjungtivitis gonore infantum.
  • Bila mengenai orang dewasa biasanya disebut konjungtivitis gonoroika adultorum.

2.6 Gejala klinis

Pada bayi dan anak

  • Gejala subjektif : (-)
  • Gejala objektif :

Ditemukan kelainan bilateral dengan sekret kuning kental, sekret dapat bersifat serous tetapi kemudian menjadi kuning kental dan purulen. Kelopak mata membengkak, sukar dibuka dan terdapat pseudomembran pada konjungtiva tarsal. Konjungtiva bulbi merah.

Konjungtivitis gonore (gonoblenore) pada bayi.

Pada orang dewasa

  • Gejala subjektif :
    • Rasa nyeri pada mata.
    • Dapat disertai tanda-tanda infeksi umum.
    • Biasanya terdapat pada satu mata. Lebih sering terdapat pada laki-laki dan biasanya mengenai mata kanan.
    • Gambaran klinik meskipun mirip dengan oftalmia nenatorum tetapi mempunyai beberapa perbedaan, yaitu sekret purulen yang tidak begitu kental. Selaput konjungtiva terkena lebih berat dan menjadi lebih menonjol, tampak berupa hipertrofi papiler yang besar. Pada orang dewasa infeksi ini dapat berlangsung berminggu-minggu.

(Wijana, Nana. 1990)

2.7 Pemeriksaan penunjang

  • Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan secara langsung dari kerokan atau getah mata setelah bahan tersebut dibuat sediaan yang dicat dengan pengecatan gram atau giemsa dapat dijumpai sel-sel radang polimorfonuklear. Pada konjungtivitis yang disebabkan alergi pada pengecatan dengan giemsa akan didapatkan sel-sel eosinofil.

Pada pemeriksaan penunjang dilakukan pemeriksaan sediaan langsung sekret dengan pewarnaan gram atau Giemsa untuk mengetahui kuman penyebab dan uji sensitivitas untuk perencanaan pengobatan. untuk membedakannya dilakukan tes maltose, dimana gonokok memberikan test maltose (-). Sedang meningokok test maltose (+). Bila pada anak didapatkan gonokok (+), maka kedua orang tua harus diperiksa. Jika pada orang tuanya ditemukan gonokok, maka harus segera diobati.

2.8 Pengobatan

Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi penyebab. Konjungtivitis karena bakteri dapat diobati dengan sulfonamide (sulfacetamide 15 %) atau antibiotika (Gentamycine 0,3 %; chlorampenicol 0,5 %).

Konjungtivitis karena jamur sangat jarang sedangkan konjungtivitis karena virus pengobatan terutama ditujukan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, konjungtivitis karena alergi di obati dengan antihistamin (antazidine 0,5 %, rapazoline 0,05 %) atau kortikosteroid (misalnya dexametazone 0,1 %).

2.9  Penyulit

Penyulit yang didapat adalah tukak kornea marginal terutama di bagian atas, dimulai dengan infiltrat, kemudian pecah menjadi ulkus. Tukak ini mudah perforasi akibat adanya daya lisis kuman gonokok (enzim proteolitik). Tukak kornea marginal dapat terjadi pada stadium I atau II, dimana terdapat blefarospasme dengan pembentukan sekret yang banyak, sehingga sekret menumpuk dibawah konjungtiva palpebra yang merusak kornea dan hidupnya intraseluler, sehingga dapat menimbulkan keratitis, tanpa didahului kerusakan epitel kornea. Ulkus dapat cepat menimbulkan perforasi, edofthalmitis, panofthalmitis dan dapat berakhir dengan ptisis bulbi.

Pada anak-anak sering terjadi keratitis ataupun tukak kornea sehingga sering terjadi perporasi kornea. Pada orang dewasa tukak yang terjadi sering berbentuk cincin.

2.10  Pencegahan

Kuman GO (Gonoroika) tersebar luas di dunia. Penyakit hampir semata-mata dipindahkan dengan kontak seksual, terutama oleh wanita dan laki-laki yang mempunyai
infeksi menahun yang tidak tampak gejalanya. Sekali berhubungan dengan
pasangan seksual yang terinfeksi kemungkinannya 20-30% (atau lebih
besar) akan terkena infeksi. Laju infeksi dapat dikurangi dengan:

  1. 1.      Menghindari hubungan seksual dengan sembarang orang (bukan istri atau suaminya).
  2. 2.      Pembasmian GO (Gonokkus) dengan cepat dari individu yang terinfeksi
    dengan cara diagnosa dini dan pengobatan.
  1. 3.      Skrining dan terapi pada perempuan hamil dengan penyakit menular seksual.
  2. 4.      Secara klasik diberikan obat tetes mata AgNO3 1% Segera sesudah lahir (harus diperhatikan bahwa konsentrasi AgNO3 tidak melebihi 1%).
  3. 5.      Cara lain yang lebih aman adalah pembersihan mata dengan solusio borisi dan pemberian kloramfenikol salep mata.
  4. 6.      Operasi caesar direkomendasikan bila si ibu mempunyai lesi herpes aktif saat melahirkan.
  5. 7.      Antibiotik, diberikan intravena, bisa diberikan pada neonatus yang lahir dari ibu dengan gonore yang tidak diterapi.
  6. 8.      penemuan kasus dan kontak melalui pendidikan dan penyaringan penduduk yang mempunyai resiko tinggi.
  7. 9.      GO pada bayi dicegah dengan pemberian obat lokal zat bakterisidat terhadap Gonokokus bila terjadi kontak pada selaput lender mata bayi-bayi yang baru lahir, misalnya perak nitrat 1%.

2.11  Penatalaksanaan

  1. 1.      Sekret dibersihkan dengan kapas yang dibasahi air bersih (direbus) atau dengan garam fisiologik setiap ¼ jam, kemudian diberi salep penisillin setiap ¼ jam. Penisillin tetes mata dapat diberikan dalam bentuk larutan penisillin (caranya : 10.000 – 20.000 unit/ml) setiap 1 menit sampai 30 menit. Kemudian salep diberikan setiap 5 menit selama 30 menit., disusul pemberian salep penisillin setiap 1 jam selama 3 hari.
  2. 2.      Tetes mata penisillin tiap 30 menit, kemudian salf setiap 5 menit selama 30 menit.
  3. 3.      Disusul salf penisillin tiap 1 jam selama 3 hari. Antibiotik sistemik
  4. 4.      Pencegahan dengan membersihkan mata bayi baru lahir dengan lar Borisi dan salf kloramfenikol.
    1. 5.      Pasien dirawat dan diberi pengobatan dengan penicillin, salep dan suntikan, pada bayi diberikan 50.000 U/kgBB selama 7 hari.
    2. 6.      Antibiotika sistemik diberikan sesuai dengan pengobatan gonoblenore.
    3. 7.      Pengobatan diberhentikan bila pada pemeriksan mikroskopik yang dibuat setiap hari menghasilkan 3 kali berturut-turut negatif.
    4. 8.      Pada pasien yang resisten terhadap penicillin dapat diberikan cefriaksone (Rocephin) atau Azithromycin (Zithromax) dosis tinggi.

 

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS

GONOBLENORE

 

3.1  PENGKAJIAN

  • ANAMNESA
  • Biodata /identitas klien meliputi :
    • Nama
    • Umur

semua kalangan usia dapat terjangkit penyakit ini, Bayi umur kurang dari 1 tahun juga bisa terkena penyakit ini, biasanya didapatkan karena tertular oleh ibunya, pada waktu melewati jalan lahir. pada bayi ini biasanya yang kena kedua mata langsung).

  •  Jenis kelamin
  •  Suku bangsa
  •  Pekerjaan
  •  Pendidikan
  • Status menikah ( karena salah satu etiologi dari gonoblenorea adalah seksual, berganti2 pasangan).
  • Alamat
  • Tanggal MRS
  • Diagnosa medis.

 

  • Keluhan utama, Tanyakan kepada klien adanya keluhan meliputi:
  • Nyeri.
  • Mata berdapat secret.
  • Mata merah dan bengkak
  • Pada saat sakit mata pernah mengeluarkan getah mata (nanah yang bercampur darah).
  • pada daerah konjungtiva terdapat purulen.
  • Terdapat Perdarahan pada sub konjungtiva
  • Riwayat Kesehatan

 

  • Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien dengan Gonoblenorea biasanya akan diawali dengan adanya tanda-tanda seperti: mata memerah seperti konjungtivitis akut dan bengkak atau sampai bernanah dan mengeluarkan darah., serta terdapat penurunan tajam penglihatan karena pada gonoblenorea kuman dapat menembus kornea sehingga bila tidak segera dilakukan tindakan kuman dapat menghamcurkan kornea sehingga penglihatan akan mengalami penurunan yang siknifikan.tidak lupa pada wanita yang sedang hamil tanyakan riwayat gonore dan status pernikahan.

 

  • Riwayat penyakit dahulu.

Tanyakan pada klien riwayat penyakit yang dialami klien seperti: apakah klien sebelumnya pernah mengalami penyakit yang sama, “kalaupun sudah yang kedua kalinya tanyakan” apakah sampai mengalami penurunan penglihatan dan apakah diderita pada ke dua organ matanya, serta apakah terdapat penyakit metabolic “ diabetes mellitus” atau pernah mengalami gonore (berganti pasangan).

  • Riwayat penyakit keluarga

Dalam keluarga apakah ada yang mengalami penyakit yang sama, atau terdapat penderita penyakit menular.

 

  • Riwayat psikologi 

klien gonoblenorea cemas dan merasa takut pada penyakit ini, klien sering merasa terganggu karena organ visus selalu mengeluarkan purulen atau bahkan darah yang disertai nanah, dan selalu merasa takut untuk kehilangan tajam penglihatan.

  • Pemeriksaan fisik
    • Ketajaman penglihatan

Uji ketajaman penglihatan merupakan bagian dari setiap data dasar pasien. Tajam penglihatan diuji dengan kartu mata ( snellen ) dengan jarak 6 meter.

 

  • Palpebra superior

Merah, sakit jika ditekan

  • Palpebra inferior.

Bengkak, merah, hiperemi, tegang, blefarospasme, disertai rasa sakit , ditekan keluar secret kental atau bahkan padat berwarna kuning pada bayi, pada orang dewasa secret kental, biasanya bercampur darah yang kelua secara terus menerus.

 

  • Konjungtiva tarsal superior dan inferior Inspeksi adanya  :
    • konjungtiva mengalami peradangan
    • kinjungtiva edema (bengkak) dan lebih menonjol.
      • Membran sel di depan mukosa konjungtiva yang bila diangkat akan berdarah.
      • terdapat purulen bahkan nanah dan darah.
        • konjungtiva bulbi terdapat injeksi konjungtiva yang lembab, kemotik dan menebal, sekret serous, kadang-kadang berdarah

 

3.2  DIAGNOSA KEPERAWATAN

 

  1. 1.      Gangguan rasa nyaman nyeri b/d peradangan dan pembengkakan pada daerah konjungtiva.
  2. 2.      Resiko infeksi b/d proses peradangan mendadak pada daerah konjungtiva
  3. 3.      Resiko tinggi cedera b/d penurunan organ visus atau keterbatasan penglihatan
  4. 4.       Gangguan integritas jaringan b/d pembengkakan pada daerah kelopak mata.
  5. 5.      Kecemasan b/d faktor fisiologis dari pernyakit,  perubahan status kesehatan : adanya nyeri, kemungkinan terjadinya penurunan penglihatan atau kenyataan terjadinya kehilangan penglihatan.

(Carpenito, Lynda Juall. 2000).

3.3  INTERVENSI DAN RASIONAL

  1. 1.      DX. 1

Gangguan rasa nyaman nyeri b/d peradangan dan pembengkakan pada daerah konjungtiva

 

  • Tujuan
    •  Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2×24 jam diharapkan klien merasa nyeri berkurang

 

  • Kriteria hasil
    • Nyeri berkurang.
    • Klien merasa nyaman
    • Ekspresi wajah tidak tampak kesakitan.
    • Keadaan umum baik.
  • Intervensi Dan Rasional
    • I               : Kaji tingkat nyeri yang dialami oleh klien.
    • R             : Untuk mengetahui tingkat skala nyeri yang dirasakan klien.
    • I               : Berikan kompres hangat pada mata yang nyeri.
    • R              : untuk mengurangi ketegangan otot okuli.
    • I               : Ciptakan lingkungan tidur yang nyaman, aman dan tenang.
    • R              : Merupakan suatu cara pemenuhan rasa nyaman kepada klien dengan mengurangi stressor yang berupa kebisingan.
    • I              : Anjurkan pasien untuk tidak menggosok – gosok mata yang sakit terutama dengan tangan
    • R              : Untuk mengurangi iritasi atau proses infeksi pada daerah visus.
      • I               : Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian analgetik
      • R              : Untuk memberikan terapi yang tepat dan sesuai kepada klien.

 

 

  1. 2.      Dx. 2

Resiko infeksi b/d proses peradangan mendadak pada daerah konjungtiva

 

  • Tujuan
    • Mampu mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko infeksi

 

  • criteria hasil
    • Proses penyebaran infeksi tidak terjadi.

 

  • Intervensi Dan Rasional  
    • I           : Kaji tanda-tanda infeksi
    • R         : Mengetahui seberapa tingkat keparahan dari infeksi.
    • I           : Bersihkan kelopak mata dari dalam ke arah luar ( lakukan irigasi).
      • R         : Dengan membersihkan mata dan irigasi mata, maka mata menjadi bersih    serta meminimalkan terjadinya infeksi.
  • I           : Berikan antibiotika sesuai dosis dan umur.
  • R         : Pemberian antibiotik diharapkan penyebaran infeksi tidak terjadi
  • I           : Pertahankan tindakan septik dan aseptik.
    • R         : Diharapkan tidak terjadi penularan baik dari pasien ke perawat atau perawat ke pasien.
    • I           :Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh/mengobati mata.
  • R         : Meminimalkan terjadinya infeksi dan penularan.
    • I           : Tekankan pentingnya tidak menyentuh/menggaruk mata yang sakit kemudian yang sehat
    • R         : Meminimalkan adanya banteri yang amsuk serta mencegah terjadinya infeksi berualang.
  • I           : Anjurkan keluarga  untuk memisahkan handuk, lap atau sapu tangan.
  • R         :  Untuk meminimalkan terjadinya penularan pada keluarga klien.
  • I           : kolaborasi dengan tim medist untuk memberikan terapi antibiotic
    • R         : Untuk memberikan terapi dan tindakan yang tepat pada klien serta utuk mengurangi terjadinya infeksi.

 

  1. 3.      Dx. 3

Resiko tinggi cedera b/d penurunan organ visus atau keterbatasan penglihatan

 

  • Tujuan
    • Klien mampu mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan yang terjadi.
    • Klien dapat mengontrol aktivitas yang dapat mengakibatkan dirinya cedera.
    • Mampu mengidentifikasi / memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.

 

  • Criteria hasil
    • Cedera tidak sampai terjadi.
    • Mampu berkompensasi dengan keadaanya sekarang.
  • Intervensi dan rasional
    • I      : kaji tingkat ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau kedua mata terlibat.
    • R     : mengetahui tingkat kenormalan visus klien serta mengetahui tingkat perjalanan atau prognosis penyakit.
    • I      : Batasi aktivitas seperti menggerakkan kepala tiba-tiba, menggaruk mata, membungkuk
    • R     : Menurunkan resiko jatuh (cedera).
    • I      : Orientasikan pasien terhadap lingkungan, dekatkan alat yang dibutuhkan pasien ke tubuhnya.
    • R     : Mencegah cedera, meningkatkan kemandirian
    • I      : Lakukan tindakan untuk membantu pasien menangani keterbatasan penglihatan seperti kurangi kekacauan, ingatkan memutar kepala ke subjek yang terlihat dan perbaiki sinar suram
    • R     : untuk meningkatkan kenyamanan dan ketenanagan klien serta untuk memudahkan klien meningat tempat yang diingikan.
    • I      : Atur lingkungan sekitar pasien, jauhkan benda-benda yang dapat menimbulkan kecelakaan
    • R     : Meminimalkan resiko cedera, memberikan perasaan aman bagi pasien.
    • I      : Anjurkan keluarga untuk mengawasi / menemani pasien saat melakukan aktivitas.
    • R     : Mengontrol kegiatan pasien dan menurunkan bahaya keamanan
    • I      : Anjurkan keluarga untuk mendekatkan benda-benda yang sangat dibutuhkan klien.
    • R     : untuk mempermudah klien menjangkau benda yang diinginkan.

 

  1. 4.      Dx. 5

Kecemasan b/d faktor fisiologis dari pernyakit,  perubahan status kesehatan : adanya nyeri, kemungkinan terjadinya penurunan penglihatan atau kenyataan terjadinya kehilangan penglihatan.

 

  • Tujuan
    • Setelah diberikan HE diharapkan klien dapat meminimalkan ancietas

 

  • Kriteria hasil .
    • Klien menunjukkan menurunnya pernyataan-pernyataan yang berhubungan dengan kecemasan.
    • Klien tidak menunjukkan sikap gelisah.

 

  • Intervensi Dan Rasional
    • I   : Kaji tanda dan gejala ansietas.
    • R  : Membantu dalam mengidentifikasi berat ringannya ansietas
    • I   :  Berikan informasi yang akurat  dan jujur
      • R  : Untuk mengurangi ansietas dan meningkatkan pengetahuan tentang perjalanan penyakitnya.
      • I   : Beri penjelasakn tentang perjalanan penyakit.
      • R  : Meningkatkan pemahaman klien tentang proses penyakitnya
      • I   : Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi kepada klien.
      • R  : Untuk meningkatkan kenyamanan dan mengurangi kecemasan.  
      • I   : Beri dukungan moril berupa do’a
      • R  : Memberikan perasaan tenang kepada klien

 

3.4  EVALUASI

 

  1. Pemahamani faktor yang dapat memungkinkan dapat menimbulkan cedera.
  2. Menunjukkan perubahan prilaku, pola hidup untuk menurunkan faktor resiko dan melindungi diri dari cedera.
  3. Mengubah lingkungan sesuai indikasi untuk meningkatkan keamanan.
  4. Tidak terdapat tanda-tanda dini dari penyebaran penyakit.
  5. Mendemonstrasikan penilaian penanganan adaptif untuk mengurangi ansietas.
  6. Mendemonstrasikan pemahamaan proses penyakit.

 


DAFTAR PUSTAKA

  1. Brunner and suddarth. ( 2001 ). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Alih bahasa : dr. H.Y. Kuncara dkk.Jakarta : EGC
  2. Sidharta Ilyas. ( 2001 ).Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Penerbit FKUI
  1. Wijana, Nana. 1990. Ilmu Penyakit mata. Cetakan V. Jakarta.
  1. Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Penerbit: EGC, Jakarta.
  2. www. Asuhan-keperawatan-askep-infeksi Gonoblenorea .html
  3. http//.KONJUNGTIVITIS GONORE DAN PENATALAKSANAANNYA « Yumizone.11 januari 2011, html
  4. www. google.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ASKEP KERATITIS

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PASIEN DENGAN KERATITIS

 

 

       I.            DEFINISI

-          Keratitis adalah inflamasi pada kornea oleh bakteri, virus, hespes simplek, alergi, kekurangan vit. A . Keratitis adalah peradangan pada kornea, keratitis disebabkan oleh mikrobial dan pemajanan. Keratitis Mikrobial adalah infeksi pada kornea yang disebabkan oleh berbagai organisme bakteri, virus, jamur/parasit. serta abrasi yang sangat bisa menjadi pintu masuk bakteri. Keratitis Pemajanan adalah infeksi pada ornea yang terjadi akibat kornea tidak dilembabkan secara memadai dan dilindungi oleh kelopak mata kekeringan mata dapat terjadi dan kemudian diikuti ulserasi dan infeksi sekunder. (Brunner dan Suddarth, 2001)

-          Keratitis adalah peradangan pada kornea, membran transparan yang menyelimuti bagian berwarna dari mata (iris) dan pupil. Keratitis dapat terjadi pada anak-anak maupun dewasa. Bakteri pada umumnya tidak dapat menyerang kornea yang sehat, namun beberapa kondisi dapat menyebabkan infeksi bakteri terjadi. Contohnya, luka atau trauma pada mata dapat menyebabkan kornea terinfeksi. Mata yang sangat kering juga dapat menurunkan mekanisme pertahanan kornea. (Kaiser, 2005)

-          Keratitis merupakan kelainan akibat terjadinya infiltrasi sel radang pada kornea yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh. (http://berita19.wordpress.com/2010/02/03/infeksi-pada-mata-keratitis/)

-          Keratitis merupakan kelainan akibat terjadinya infiltrate sel radang pada kornea yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh, biasanya diklasifikasikan dalam lapisan yang terkena seperti keratitis superficial, intertitisial dan profunda. (http://www.berbagimanfaat.blogspot.com)

 

 

 

    II.            ETIOLOGI

  1. Keratitis Mikrobial

Keratitis ini diakibatkan oleh berbagai organisme bakteri,virus, jamur, atau parasit, abrasi sedikitpun bisa menjadi pintu masuk bakteri. Kebanyakan infeksi kornea terjadi akibat trauma atau gangguan mekanisme pertahanan sistemis ataupun lokal. keratitis bacterial keratitis akibat dari infeksi stafilokokkus, berbentuk seperti

  • keratitis pungtata, terutama dibagian bawah kornea
  • keratitis viral dendritik herpetic keratitis dendritik yang disebabkan virus herpes simpleks akan memberi gambaran spesifik berupa infiltrat pada kornea dengan bentuk seperti ranting pohon yang bercabang – cabang dengan memberikan uji fluoresin positif nyata pada tempat percabangan.
  • Keratitits herpes zoster Merupakan manifestasi klinis dari infeksi virus herpes zooster pada cabang saraf trigeminus, termasuk puncak hidung dan demikian pula kornea atau konjungtiva.
  • Keratitis pungtata epithelial dengan infiltrat halus pada kornea, selain disebabkan oleh virus keratitits pungtata juga disebabakan oleh obat seperti neomicin dan gentamisin.
  • Keratitits disiformis merupakan keratitits dengan bentuk seperti cakram didalam stroma permukaan kornea, keratitis ini disebabkan oleh infeksi atau sesudah infeksi virus herpes simpleks
  1. Keratitis Peremajaan

Infeksi ini terjadi bila kornea tidak dilembabkan secara memadai dan dilindungi oleh kelopak mata. Kekeringan kornea dapat terjadi dan kemudian dapat diikuti ulserasi dan infeksi sekunder. Pemajanan kornea dapat disebabkan oleh karena keadaan eksoptalmus, paresis saraf kranial VII tetapi juga dapat terjadi pada pasien koma atau yang dianastesi.

  • Keratitis lagoftalmos Terjadi akibat mata tidak menutup sempurna yang dapat terjadi pada ektropion palpebra, protrusio bola mata atau pada penderita koma dimana mata tidak terdapat reflek mengedip.
  • Keratitis neuroparalitik Terjadi akibat gangguan pada saraf trigeminus yang mengakibatkan gangguan sensibilitas dan metabolisme kornea
  • Kerato konjungtivitis sika Terjadi akibat kekeringan pada bagian permukaan kornea.

 III.            MANIFESTASI KLINIS

  1. Inflamasi bola mata yang jelas
  2. Terasa benda asing di mata
  3. Cairan mokopurulen dengan kelopak mata saling melekat saat bangun
  4. Ulserasi epitel
  5. Hipopion (terkumpulnya nanah dalam kamera anterior)
  6. Dapat terjadi perforasi kornea
  7. Ekstrusi iris dan endoftalmitis
  8. Fotofobia
  9. Mata berair
  10. Kehilangan penglihatan bila tidak terkontrol

(Brunner dan Suddarth, 2001)

 

 IV.            TANDA DAN GEJALA

Tanda patognomik dari keratitis ialah terdapatnya infiltrat di kornea. Infiltrat dapat ada di seluruh lapisan kornea, dan menetapkan diagnosis dan pengobatan keratitis. Pada peradangan yang dalam, penyembuhan berakhir dengan pembentukan jaringan parut (sikatrik), yang dapat berupa nebula, makula, dan leukoma. Adapun gejala umum adalah :

  • Keluar air mata yang berlebihan
  • Nyeri
  • Penurunan tajam penglihatan
  • Radang pada kelopak mata (bengkak, merah)
  • Mata merah
  • Sensitif terhadap cahaya (Mansjoer, 2001).

 

 

 

 

 VI.            KLASIFIKASI

Keratitis biasanya diklasifikasikan berdasarkan lapisan kornea yang terkena : yaitu keratitis superfisialis apabila mengenai lapisan epitel dan bowman dan keratitis profunda apabila mengenai lapisan stroma.

Bentuk-bentuk klinik keratitis superfisialis antara lain adalah (Ilyas, 2006):

  1. Keratitis punctata superfisialis

Berupa bintik-bintik putih pada permukaan kornea yang dapat disebabkan oleh sindrom dry eye, blefaritis, keratopati logaftalmus, keracunan obat topical, sinar ultraviolet, trauma kimia ringan dan pemakaian lensa kontak.

  1. Keratitis flikten

Benjolan putih yang yang bermula di limbus tetapi mempunyai kecenderungan untuk menyerang kornea.

  1. Keratitis sika

Suatu bentuk keratitis yang disebabkan oleh kurangnya sekresi kelenjar lakrimale atau sel goblet yang berada di konjungtiva.

  1. Keratitis lepra

Suatu bentuk keratitis yang diakibatkan oleh gangguan trofik saraf, disebut juga keratitis neuroparalitik.

  1. Keratitis nummularis

Bercak putih berbentuk bulat pada permukaan kornea biasanya multiple dan banyak didapatkan pada petani.

Bentuk-bentuk klinik keratitis profunda antara lain adalah :

  1. Keratitis interstisialis luetik atau keratitis sifilis congenital
  2. Keratitis sklerotikans.

 

  1. VII.            PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
    1. Pemeriksaan tajam penglihatan

Pemeriksaan tajam penglihatan dilakukan untuk mengetahui fungsi penglihatan setiap mata secara terpisah. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan kartu snellen maupun secara manual yaitu menggunakan jari tangan.

  1. Pemulasan fluorescein
  2. Kerokan kornea yang kemudian dipulas dengan pulasan gram maupun giemsa.
  3. Pemeriksaan mikroskopik dengan KOH 10 % pada kerokan kornea
  4. Pemeriksaan schirmer.
  5. Kultur bakteri atau fungi
  6. Uji dry eye

Pemeriksaan mata kering atau dry eye termasuk penilaian terhadap lapis film air mata ( tear film ), danau air mata ( teak lake ), dilakukan uji break up time tujuannya yaitu untuk melihat fungsi fisiologik film air mata yang melindungi kornea. Penilaiannya dalam keadaan normal film air mata mempunyai waktu pembasahan kornea lebih dari 25 detik. Pembasahan kornea kurang dari 15 detik menunjukkan film air mata tidak stabil.

Menentukan bakteri yang menyerang mata.

  1. Ofthalmoskop

Tujuan pemeriksaan untuk melihat kelainan serabut retina, serat yang pacat atropi, tanda lain juga dapat dilihat seperti perdarahan peripapilar.

  1. Keratometri ( pegukuran kornea )

Keratometri tujuannya untuk mengetahui kelengkungan kornea, tear lake juga dapat dilihat dengan cara focus kita alihkan kearah lateral bawah, secara subjektif dapat dilihat tear lake yang kering atau yang terisi air mata.

  1. Tonometri digital palpasi

Cara ini sangat baik pada kelainan mata bila tonometer tidak dapat dipakai atau sulit dinilai seperti pada sikatrik kornea, kornea ireguler dan infeksi kornea. Pada cara ini diperlukan pengalaman pemeriksa karena terdapat factor subjektif, tekanan dapat dibandingkan dengan tahahan lentur telapak tangan dengan tahanan bola mata bagian superior.

 

       VIII.            PENATALAKSNAAN

Terapi Medik

  1. Pemberian antibiotik, air mata buatan.
  2. Pada keratitis bakterial diberikan gentacimin 15 mg/ml, tobramisin 15 mg/ml, seturoksim 50 mg/ml. Untuk hari-hari pertama diberikan setiap 30 menit kemudian diturunkan menjadi 1 jam dan selanjutnya 2 jam bila keadaan mulai membaik. Ganti obatnya bila resisten atau keadaan tidak membaik.
  3. Perlu diberikan sikloplegik untuk menghindari terbentuknya sinekia posterior dan mengurangi nyeri akibat spasme siliar
  4. Pada terapi jamur sebaikna diberikan ekanazol 1 % yang berspektum luas.
  5. Antivirus,anti inflamasi dan analgesik

(Brunne dan Suddarth, 2001)

  1. Keratitis Mikrobial

Pasien dengan infeksi kornea berat dirawat untuk pemberian berseri (kadang sampai tiap 30 menit sekali) tetes anti mikroba dan pemeriksaan berkala oleh ahli optalmologi.Cuci tangan secara seksama. Harus memakai sarung tangan setiap intervensi keperawatan yang melibatkan mata. Kelopak mata harus dijaga kebersihannya dan perlu diberi kompres dingin. Diperlukan aseaminofen untuk mengontrol nyeri. Dan diresepkan sikloplegik dan midriatik untuk mengurangi nyeri dan inflamasi

  1. Keratitis Pemajanan

Memplester kelopak mata atau membalut dengan ringan mata yang telah diberi pelumas. Pada yang mengalami penurunan perlindungan sensori terhadap kornea. Dapat dipasang lensa kontak lunak tipe-balutan. Lensa kontak lunak tipe-balutan dipasang sesuai ukuran. Hal ini untuk mempertahankan permukaan kornea, mempercepat penyembuhan efek epitel dan memberikan rasa nyaman. Perisai kolagen bisa dipergunakan untuk perlindungan kornea jangka pendek (Brunne dan Suddarth, 2001)

 

 

 

 

 

 

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

DENGAN KERATITIS

 

 

       I.            PENGKAJIAN

Anamnesa

  1. Biodata /identitas klien meliputi :
    1. Nama
    2. Umur
    3. Jenis kelamin
    4. Suku bangsa
    5. Pekerjaan
    6. Pendidikan
    7. Status menikah
    8. Alamat
    9. Tanggal MRS
    10. Diagnosa medis.
    11. Keluhan Utana
  • Gangguan penglihatan ( visus menurun )
  • Mata terasa sakit ( nyeri )
  • Lakrimasi
  1. Keluhan Penyakit Sekarang
  • Mata merah bengkak
  • Merasa kelilipan
  • Gangguan penglihatan ( visus menurun )
  • Mata sakit ( nyeri )
  • Fotofobi
  1. Riwayat Penyakit Masa Lalu
  • Apakah pasien menderita konjungtifitis sebelumnya / herpes
  • Adanya trauma pada mata.

PEMERIKSAAN FISIK

Inspeksi

  • Kesimetrisan mata
  • Hiperemi pada konjungtiva.
  • Adanya flikten/infiltrat pada kornea
  • Adanya lakrimasi,blefarospasme
  • Mata tampak merah dan bengkak

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

  1. Pemeriksaan tajam penglihatan

Pemeriksaan tajam penglihatan dilakukan untuk mengetahui fungsi penglihatan setiap mata secara terpisah. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan kartu snellen maupun secara manual yaitu menggunakan jari tangan.

  1. Pemulasan fluorescein
  2. Kerokan kornea yang kemudian dipulas dengan pulasan gram maupun giemsa.
  3. Pemeriksaan mikroskopik dengan KOH 10 % pada kerokan kornea
  4. Pemeriksaan schirmer

Apabila resapan air mata pada kertas schirmer kurang dari 10mm dalam 5 menit maka dianggap tidak normal.

  1. Pemeriksaan Kultur

Menentukan jenis bakteri, jamur atau virus yang menyerang untuk penanganan lebih lanjut.

  1. Uji dry eye

Penilaiannya dalam keadaan normal film air mata mempunyai waktu pembasahan kornea lebih dari 25 detik. Pembasahan kornea kurang dari 15 detik menunjukkan film air mata tidak stabil.

 

    II.            DIAGNOSA KEPERAWATAN

  1. Nyeri b/d proses inflamasi ditandai dengan         :
  • Mata merasa sakit
  • Mata merah bengkak
  • Ekspresi wajah kesakitan
  • Tampak gelisah
  1. Resiko tinggi terhadap cidera b/d penurunan ketajaman penglihatan ditandai dengan   :
  • Visus menurun
  • Fotofobi
  • Adanya flikten
  • Merasa klilipan
  1. Potensial infeksi, penyebaran ke mata yang tak sakit berhubungan dengan kurang pengetahuan ditandai dengan      :
  • Sering menggaruk mata
  • Kurang menjaga kebersihan mata
  • Tidak akurat mengikuti instruksi
  1. Gangguan konsep diri b/d status kesehatannya ditandai dengan             :
  • Klien menarik diri
  • Diam dan sering termenung

 

 III.            INTERVENSI

  1. Nyeri b/d proses inflamasi ditandai dengan   :
  • Mata merasa sakit
  • Mata merah bengkak
  • Ekspresi wajah kesakitan

Tujuan :

  • Rasa sakit berkurang
  • Ekspresi wajah tampak tenang
  • Bengkak berkurang
  1. Kaji tingkat nyeri

R/ tingkat nyeri dapat menggambarkan intervensi selanjutnya.

  1. Kaji pernyataan verbal dan non verbal tentang nyeri

R/ ketidaksesuaian pernyataan verbal dan non verbal memberikan petunjuk derajat nyeri.

  1. Beri kompres basah hangat

R/ Mengurangi nyeri, mempercepat penyembuhan, dan membersihkan mata.

  1. Kompres basah dengan NaCL dingin

R/ mencegah dan mengurangi edema dan gatal-gatal yang berat

  1. Beri irigasi

R/ untuk mengeluarkan sekret, benda asing/kotoran dan zat-zat kimia dari mata.

  1. Dorong penggunaaan kaca mata hitam pada cahaya kuat

R/ cahaya yang kuat meyebabkan rasa tak nyaman

  1. Kolaborasi team medis

R/ pemakaian obat antibioteik dan antiseptik.

  1. Resiko tinggi terhadap cidera b/d penurunan ketajaman penglihatan ditandai dengan   :
  • Visus menurun
  • Fotofobi
  • Adanya flikten
  • Merasa klilipan

Tujuan

  • Visus kembali normal
  • Tidak tampak luka cidera pada tubuh
  1. Kaji tingkat ketajaman penglihatan

R/ kebutuhan individu dan pilihan intervensi bervariasi sebab kehilangan penglihatan terjadi lamban dan progresif.

  1. Pertahankan posisi tempat tidur rendah, pagar tempat tidur tinggi dan bel samping tempat tidur.

R/ memberikan kenyamanan pasien saat membutuhkan bantuan dan mengurangi resiko cidera.

  1. Singkirkan benda-benda yang dapat menimbulkan cidera ( pisau buah )

R/ memberikan perlidungan terhadap resiko cidera.

  1. Beritahu pasien untuk tidak menggaruk mata

R/ mencegah terjadinya cidera mata.

  1. Potensial infeksi, penyebaran ke mata yang tak sakit berhubungan dengan kurang pengetahuan ditandai dengan      :
  • Sering menggaruk mata
  • Kurang menjaga kebersihan mata
  • Tidak akurat mengikuti instruksi

Tujuan             :

  • Infeksi tidak menyebar ke mata sebelahnya
  1. Kaji pemberian antibiotik setian 30 menit/1jam/2jam dan kaji efek sampingnya setelah pemberian obat

R/ mencegah komplikasi dan penyebaran infeksi ke mata yang tidak terinfeksi.

  1. Lakukan tehnik steril saat pemberian obat

R/ mencegah infeksi silang

  1. Lakukan HE tentang pencegahan dan penularan penyakit

R/ memberikan pengetahuan dasar bagaimana cara memproteksi diri.

  1. Gangguan konsep diri b/d status kesehatannya ditandai dengan             :
  • Klien menarik diri
  • Diam dan sering termenung

Tujuan             :

  • Klien tidak menarik diri
  • Wajah tanpak ceria
  • Pasien tampak bersosialisasi
  1. Ciptakan / pertahankan hubungan terapeutik antara pasien dan perawat

R/ mengenbangkan rasa saling percaya dengan Px dan keluarga Px.

  1. Kaji interaksi antara Pasien dengan keluarga,catat apabila ada perubahan dalam hubungan keluarga.

R/ keluarga mungkin secara sadar/tidak memperkuat sikap negatif dan keyakinan pasien atau informasi yang didapat mungkin menghambat dalam penanganan pasien.

  1. Dukung penggunaan mekanisme pertahanan

R/ konfrontasi pasien terhadap situasi yang nyatadan mengakibatkan peningkatan ansietas dan mengurangi kemampuan untuk mengatasi perubahan konsep diri.

  1. Beri informasi yang benar tentang keadaan kesehatannya

R/ membantu pasien menerima keadaan kesehatannya

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Ilyas, Sidarta. 2006. Ilmu Penyakit Mata, Edisi 3. Balai Penerbit FKUI Jakarta.

Mansjoer, Arif M. 2001. Kapita Selekta edisi-3 jilid-1. Jakarta: Media Aesculapius FKUI.

Hal: 56

Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : edisi 3. Jakarta : EGC.

Carpenitto, Lynda Juall. 1999. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan. EGC :

Jakarta.

Brunner &amp; Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal – Bedah : volume 2. Jakarta : EGC.

(http://berita19.wordpress.com/2010/02/03/infeksi-pada-mata-keratitis/)

(http://www.berbagimanfaat.blogspot.com)

ASKEP HORDEOLUM

LAPORAN PENDAHULUAN

DAN ASUHAN KEPERAWATAN HORDEOLUM

 

ANATOMI PALPEBRA

Palpebra superior dan inferior adalah modifikasi lipatan kulit yang dapat menutup dan melindungi bola mata bagian anterior. Berkedip melindungi kornea dan konjungtiva dari dehidrasi. Palpebra superior berakhir pada alis mata; palpebra inferior menyatu dengan pipi.

Palpebra terdiri atas lima bidang jaringan utama. Dari superfisial ke dalam terdapat lapis kulit, lapis otot rangka (orbikularis okuli), jaringan areolar, jaringan fibrosa (tarsus), dan lapis membran mukosa (konjungtiva pelpebrae).5

  1. Kulit

Kulit pada palpebra berbeda dari kulit bagian lain tubuh karena tipis, longgar, dan elastis, dengan sedikit folikel rambut, tanpa lemak subkutan.

  1. Muskulus Orbikularis okuli

Fungsi otot ini adalah untuk munutup palpebra. Serat ototnya mengelilingi fissura palpebra secara konsentris dan meluas sedikit melewati tepian orbita. Sebagian serat berjalan ke pipi dan dahi. Bagian otot yang terdapat di dalam palpebra dikenal sebagai bagian pratarsal; bagian diatas septum orbitae adalah bagian praseptal. Segmen luar palpebra disebut bagian orbita. Orbikularis okuli dipersarafi oleh nervus facialis.

  1. Jaringan Areolar

Terdapat di bawah muskulus orbikularis okuli, berhubungan degan lapis subaponeurotik dari kujlit kepala.

  1. Tarsus

Struktur penyokong utama dari palpebra adalah lapis jaringan fibrosa padat yang disebut tarsus superior dan inferior. Tarsus terdiri atas jaringan penyokong kelopak mata dengan kelenjar Meibom (40 buah di kelopak atas dan 20 buah di kelopak bawah).

  1. Konjungtiva Palpebrae

Bagian posterior palpebrae dilapisi selapis membran mukosa, konjungtiva palpebra, yang melekat erat pada tarsus.

Tepian palpebra dipisahkan oleh garis kelabu (batas mukokutan) menjadi tepian anterior dan posterior. Tepian anterior terdiri dari bulu mata, glandula Zeiss dan Moll. Glandula Zeiss adalah modifikasi kelenjar sebasea kecil yang bermuara dalam folikel rambut pada dasar bulu mata. Glandula Moll adalah modifikasi kelenjar keringat yang bermuara ke dalam satu baris dekat bulu mata. Tepian posterior berkontak dengan bola mata, dan sepanjang tepian ini terdapat muara-muara kecil dari kelenjar sebasesa yang telah dimodifikasi (glandula Meibom atau tarsal)

Punktum lakrimalis terletak pada ujung medial dari tepian posterior palpebra. Punktum ini berfungsi menghantarkan air mata ke bawah melalui kanalikulus terkait ke sakus lakrimalis.

Fisura palpebrae adalah ruang elips di antara kedua palpebra yang dibuka. Fisura ini berakhir di kanthus medialis dan lateralis. Kanthus lateralis kira-kira 0,5 cm dari tepian lateral orbita dan membentuk sudut tajam.

Septum orbitale adalah fascia di belakang bagian muskularis orbikularis yang terletak di antara tepian orbita dan tarsus dan berfungsi sebagai sawar antara palpebra orbita. Septum orbitale superius menyatu dengan tendo dari levator palpebra superior dan tarsus superior; septum orbitale inferius menyatu dengan tarsus inferior.5

Retraktor palpebrae berfungsi membuka palpebra. Di palpebra superior, bagian otot rangka adalah levator palpebra superioris, yang berasal dari apeks orbita dan berjalan ke depan dan bercabang menjadi sebuah aponeurosis dan bagian yang lebih dalam yang mengandung serat-serat otot polos dari muskulus Muller (tarsalis superior). Di palpebra inferior, retraktor utama adalah muskulus rektus inferior, yang menjulurkan jaringan fibrosa untuk membungkus meuskulus obliqus inferior dan berinsersio ke dalam batas bawah tarsus inferior dan orbikularis okuli. Otot polos dari retraktor palpebrae disarafi oleh nervus simpatis. Levator dan muskulus rektus inferior dipasok oleh nervus okulomotoris.

Pembuluh darah yang memperdarahi palpebrae adalah a. Palpebra. Persarafan sensorik kelopak mata atas didapatkan dari ramus frontal nervus V, sedang kelopak mata bawah oleh cabang kedua nervus V.

 

 

 

 

Figure 2. Anatomy of upper and lower eyelids.

PENGERTIAN HORDEOLUM

Hordeolum adalah infeksi kelenjar pada palpebra. Bila kelenjar Meibom yang terkena, timbul pembengkakan besar yang disebut hordeolum interna. Sedangkan hordeolum eksterna yang lebih kecil dan lebih superfisial adalah infeksi kelenjar Zeiss atau Moll.

Hordeolum (Stye) adalah suatu infeksi pada satu atau beberapa kelenjar di tepi atau di bawah kelopak mata.

Bisa terbentuk lebih dari 1 hordeolum pada saat yang bersamaan.
Hordeolum biasanya timbul dalam beberapa hari dan bisa sembuh secara spontan.

Hordeolum eksterna.

Hordeolum Interna.
ETIOLOGI

Infeksi akut pada kelenjar minyak di dalam kelopak mata yang disebabkan oleh bakteri dari kulit (biasanya disebabkan oleh bakteri stafilokokkus ).

Staphylococcus aureus adalah agent infeksi pada 90-95% kasus hordeolum. Hordeolum sama dengan jerawat pada kulit. Hordeolum kadang timbul besamaan dengan atau sesudah blefaritis, hordeolum bisa timbul secara berulang.

FAKTOR RESIKO

  1. Penyakit kronik.
  2. Kesehatan atau daya tahan tubuh yang buruk.
  3. Peradangan kelopak mata kronik, seperti Blefaritis.
  4. Diabetes
  5. Hiperlipidemia, termasuk hiperkolesterolemia.
  6. Riwayat hordeolum sebelumnya
  7. Higiene dan lingkungan yang tidak bersih
  8. Kondisi kulit seperti dermatitis seboroik.

PATOFISIOLOGI

Pembentukan nanah terdapat dalam lumen kelenjar Bisa mengenai kelenjar Meibom, Zeis dan Moll Apabila mengenai kelenjar Meibom, pembengkakan agak besar, disebut hordeolum internum.

Penonjolan pada hordeolam ini mengarah kekulit kelopak mata atau kearah konjungtiva. Kalau yang terkena kelenjar Zeis dan Moll; penonjolan kearah kulit palpebra, disebut hordeolum ekstenum.

GEJALA KLINIS

Gejala subyektif dirasakan mengganjal pada kelopak mata rasa sakit yang bertambah kalau menunduk, dan nyeri bila ditekan.
Gejala obyektif tampak suatu benjolan pada kelopak mata atas/bawah yang berwarna merah dan sakit bila ditekan didekat pangkal bulu mata.
Secara umum gambaran ini sesuai dengan suatu abses kecil.

Hordeolum biasanya berawal sebagai kemerahan, nyeri bila ditekan dan nyeri pada tepi kelopak mata. Mata mungkin berair, peka terhadap cahaya terang dan penderita merasa ada sesuatu di matanya.

Biasanya hanya sebagian kecil daerah kelopak yang membengkak, meskipun kadang seluruh kelopak membengkak. Di tengah daerah yang membengkak seringkali terlihat bintik kecil yang berwarna kekuningan.

Bisa terbentuk abses (kantong nanah) yang cenderung pecah dan melepaskan sejumlah nanah.

Hardeolum terbagi atas 2 jenis yaitu

  1. Hordeolum eksternum

Adalah infeksi yang terjadi dekat kelenjar zeis dan Moll,tempat keluarnya bulu mata(pada batas palpebra dan bulu mata).

  1. Hordeolum internum

Adalah infeksi pada kelenjar meibom sebasea. hordeolum yang terbentuk pada kelenjar yang lebih dalam. Gejalanya lebih berat dan jarang pecah sendiri, karena itu biasanya dokter akan menyayatnya supaya nanah keluar.

KOMPLIKASI

Selulitis palpebra dan abses palpebra

PENATALAKSANAAN

Biasanya hordeolum dapat sembuh dengan sendiri dalam waktu 5-7 hari.

Umum

  1. Kompres hangat 4-6 kali sehari selama 15 menit tiap kalinya untuk membantu drainase. Lakukan dengan mata tertutup.
  2. Bersihkan kelopak mata dengan air bersih atau pun dengan sabun atau sampo yang tidak menimbulkan iritasi, seperti sabun bayi. Hal ini dapat mempercepat proses penyembuhan. Lakukan dengan mata tertutup.
  3. Jangan menekan atau menusuk hordeolum, hal ini dapat menimbulkan infeksi yang lebih serius.
  4. Hindari pemakaian makeup pada mata, karena kemungkinan hal itu menjadi penyebab infeksi.
  5. Jangan memakai lensa kontak karena dapat menyebarkan infeksi ke kornea.

Obat

Antibiotik diindikasikan bila dengan kompres hangat selama 24 jam tidak ada perbaikan, dan bila proses peradangan menyebar ke sekitar daerah hordeolum.

  1. Antibiotik topikal.

Bacitracin atau tobramicin salep mata diberikan setiap 4 jam selama 7-10 hari.

Dapat juga diberikan eritromicin salep mata untuk kasus hordeolum eksterna dan hordeolum interna ringan.

  1. Antibiotik sistemik

Diberikan bila terdapat tanda-tanda bakterimia atau terdapat tanda pembesaran kelenjar limfe di preauricular.

Pada kasus hordeolum internum dengan kasus yang sedang sampai berat. Dapat diberikan cephalexin atau dicloxacilin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 7 hari. Bila alergi penisilin atau cephalosporin dapat diberikan clindamycin 300 mg oral 4 kali sehari selama 7 hari atau klaritromycin 500 mg 2 kali sehari selama 7 hari.

Pembedahan

Bila dengan pengobatan tidak berespon dengan baik, maka prosedur pembedahan mungkin diperlukan untuk membuat drainase pada hordeolum.

Pada insisi hordeolum terlebih dahulu diberikan anestesi topikal dengan pantokain tetes mata. Dilakukan  anestesi filtrasi dengan prokain atau lidokain di daerah hordeolum dan dilakukan insisi yang bila:

  • Hordeolum internum dibuat insisi pada daerah fluktuasi pus, tegak lurus pada margo palpebra.
  • Hordeolum eksternum dibuat insisi sejajar dengan margo palpebra.

Setelah dilakukan insisi, dilakukan ekskohleasi atau kuretase seluruh isi jaringan meradang di dalam kantongnya dan kemudian diberikan salep antibiotik.

Tindakan prainsisi:

  • Buat klien nyaman
  • Jika klien gelisah berikan penyuluhan kesehatan dan perawat tetap berada di samping klien

Tindakan pascainsisi:

  • Tutup mata dengan bebat berat
  • Beritahu keluarga cara membuka bebat
  • Observasi kurang lebih1/2jam sebelum pulang
  • Tutup mata dan bebat dibiarkan di tempatnya kira-kira 4 jam,kemudian di buka secara hati-hati dan mata di kompres dengan salin hangat secara hati-hati.
  • Mata mungkin tampak memar sehingga anjurkan klien untuk memakai kacamata

PENYULIT
Suatu hordeolum yang besar dapat menimbulkan abses palpebra dan selulitis palpebra.

ASUHAN KEPERAWATAN

  1. Pengkajian
  • Umur
  • Keluhan nyeri
  1. Pemeriksaan fisik

Inspeksi: adanya tanda tanda radang,adanya oedema atau tonjolan interna/exsterna dan adanya purulen atau nanah

Palpasi : adanya nyeri tekan

  1. Diagnosa Keperawatan
    1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) yang berhubungan dengan pembengkakan pelpepra akibat proses peradangan yang ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada tepi kelopak mata, tepi kelopak mata merah, bengkak dan terdapat tonjolan.
    2. Gangguan konsep diri (citra tubuh) yang berhubungan dengan perubahan bentuk kelopak mata yang memengaruhi penampilan klien.
    3. Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan kontak sekret dengan mata sehat atau mata orang lain
    4. Intervensi keperawatan
      1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) yang berhubungan dengan pembengkakan pelpepra akibat proses peradangan yang ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada tepi kelopak mata, tepi kelopak mata merah, bengkak dan terdapat tonjolan.

Kriteria hasil : Nyeri berkurang, pasien merasa nyaman

  1. Ajarkan klien cara melakukan kompres air hangat pada tepi palpebra dan beritahu klien agar mengkompres tepi palpebral selama 20 menit, 3-4 kali sehari.

Rasional : Mempercepat supurasi sehingga material purulen dapat keluar dan nyeri reda.

  1. Pada klien wanita, beritahu agar tidak memakai tata rias (khususnya tata rias mata) untuk sementara.

Rasional : Mengurangi Iritasi.

  1. Kolaborasi :
  • Antibiotika salep setiap 3 jam setelah pemberian kompres hangat.
  • Antibiotika sistemik yang diindikasikan jika terjadi selulitis.
  • Insisi. Rasional : Mengeluarkan (drainase) material purulen.
  1. Gangguan konsep diri (citra tubuh) yang berhubungan dengan perubahan bentuk kelopak mata yang memengaruhi penampilan klien.

Intervensi keperawatan

  1. Beritahu klien bahwa penyakitnya bisa disembuhkan.
  2. Anjurkan klien untuk melaksanakan anjuran yang telah diberikan (kompres hangat dan penggunaan antibiotika) secara tertur.
  3. Beritahu klien bahwa salep mata dapat membuat pandangan kabur.

Rasional :Menguragi kecemasan klien.

  1. Bertahu klien, jangan pernah menekan pembengkakan.

Rasional : dapat menyebarkan infeksi.

  1. Beritahu klien untuk meningkatkan status kesehatan.

Rasional : Buruknya status kesehatan merupakan predisposisi berulang hordeolum.

  1. Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan kontak sekret dengan mata sehat atau mata orang lain

Hasil Yang Diharapkan/ Kriteria Evaluasi

Pasien Akan :

Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu, bebas drainase purulen, eritema, dan demam.

Tujuan: Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko infeksi

Tindakan/intervensi:

  1. Kaji tanda-tanda infeksi
  2. Berikan therapi sesuai program dokter
  3. Anjurkan penderita istirahat untuk mengurangi gerakan mata
  4. Berikan makanan yang seimbang untuk mempercepat penyembuhan
    Mandiri
  5. Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh/mengobati mata.
  6. Gunakan/tunjukkan teknik yang tepat untuk membersihkan mata dari dalam keluar dengan bola kapas untuk tiap usapan, ganti balutan.
  7. Tekankan pentingnya tidak menyentuh/menggaruk mata yang sakit kemudian yang sehat
  8. Anjurkan untuk memisahkan handuk, lap atau sapu tangan.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC

Doenges, Marilyyn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC

ASKEP DENGAN KEHAMILAN EKTOPIK

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

KEHAMILAN EKTOPIK

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    LATAR BELAKANG

Kehamilan ektopik adalah suatu kehamilan dimana sel telur yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh diluar endometrium kavum uteri. Kehamilan ektopik dapat mengalami abortus atau ruptur pada dinding tuba dan peristiwa ini disebut sebagai Kehamilan Ektopik Terganggu.
Sebagian besar kehamilan ektopik terganggu berlokasi di tuba (90%) terutama di ampula dan isthmus. Sangat jarang terjadi di ovarium, rongga abdomen, maupun uterus. Keadaan-keadaan yang memungkinkan terjadinya kehamilan ektopik adalah penyakit radang panggul, pemakaian antibiotika pada penyakit radang panggul, pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim IUD (Intra Uterine Device), riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, infertilitas, kontrasepsi yang memakai progestin dan tindakan aborsi.

Gejala yang muncul pada kehamilan ektopik terganggu tergantung lokasi dari implantasi. Dengan adanya implantasi dapat meningkatkan vaskularisasi di tempat tersebut dan berpotensial menimbulkan ruptur organ, terjadi perdarahan masif, infertilitas, dan kematian. Hal ini dapat mengakibatkan meningkatnya angka mortalitas dan morbiditas Ibu jika tidak mendapatkan penanganan secara tepat dan cepat.
Insiden kehamilan ektopik terganggu semakin meningkat pada semua wanita terutama pada mereka yang berumur lebih dari 30 tahun. Selain itu, adanya kecenderungan pada kalangan wanita untuk menunda kehamilan sampai usia yang cukup lanjut menyebabkan angka kejadiannya semakin berlipat ganda.

  1. B.     TUJUAN

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui definisi dari kehamilan ektropik terganggu.
  2. Untuk mengetahui etiologi terjadinya kehamilan etropik terganggu
  3. Untuk mengetahui kalangan usia yang rentan terhadap terjadinya kehamilan ektropik.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi kehamilan ektopik

Istilah ektopik berasal dari bahasa Inggris, ectopic, dengan akar kata dari bahasa Yunani, topos yang berarti tempat. Jadi istilah ektopik dapat diartikan “berada di luar tempat yang semestinya”. Apabila pada kehamilan ektopik terjadi abortus atau pecah, dalam hal ini dapat berbahaya bagi wanita hamil tersebut maka kehamilan ini disebut kehamilan ektopik terganggu.

Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi diluar rongga uterus, tuba falopii merupakan tempat tersering untuk terjadinya implantasi kehamilan ektopik,sebagian besar kehamilan ektopik berlokasi di tuba,jarang terjadi implantasi pada ovarium,rongga perut,kanalis servikalis uteri,tanduk uterus yang rudimenter dan divertikel pada uterus.(Sarwono Prawiroharjho, 2005)

Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi di luar rongga uterus. Tuba fallopi merupakan tempat tersering untuk terjadinya implantasi kehamilan ektopik (lebih besar dari 90 %). (Sarwono. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal)

Kehamilan ektopik ialah kehamilan di tempat yang luar biasa. Tempat kehamilan yang normal ialah di dalam cavum uteri. Kehamilan ektopik dapat terjadi di luar rahim misalnya dalam tuba, ovarium atau rongga perut, tetapi dapat juga terjadi di dalam rahim di tempat yang luar biasa misalnya dalam cervix, pars interstitialis tuba atau dalam tanduk rudimenter rahim.

(Obstetri Patologi. 1984. FK UNPAD)

Kehamilan ektopik adalah implantasi dan pertumbuhan hasil konsepsi di luar endometrium kavum uteri. (kapita selekta kedokteran,2001)

Dari kedua difinisi diatas dapat disimpulkan kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan ovum yang dibuahi, berimplantasi dan tumbuh tidak di tempat yang normal yakni dalam endometrium kavum uteri.

B. Etiologi

Etiologi kehamilan ektopik terganggu telah banyak diselidiki, tetapi sebagian besar penyebabnya tidak diketahui. Trijatmo Rachimhadhi dalam bukunya menjelaskan beberapa faktor yang berhubungan dengan penyebab kehamilan ektopik terganggu:

1.Faktor mekanis

Hal-hal yang mengakibatkan terhambatnya perjalanan ovum yang dibuahi ke dalam kavum uteri, antara lain:

-Salpingitis, terutama endosalpingitis yang menyebabkan aglutinasi silia lipatan mukosa tuba dengan penyempitan saluran atau pembentukan kantong-kantong buntu. Berkurangnya silia mukosa tuba sebagai akibat infeksi juga menyebabkan implantasi hasil zigot pada tuba falopii.

-Adhesi peritubal setelah infeksi pasca abortus/ infeksi pasca nifas, apendisitis, atau endometriosis, yang menyebabkan tertekuknya tuba atau penyempitan lumen

-Kelainan pertumbuhan tuba, terutama divertikulum, ostium asesorius dan hipoplasi. Namun ini jarang terjadi

-Bekas operasi tuba memperbaiki fungsi tuba atau terkadang kegagalan usaha untuk memperbaiki patensi tuba pada sterilisasi

-Tumor yang merubah bentuk tuba seperti mioma uteri dan adanya benjolan pada adneksia

-Penggunaan IUD

2. Faktor Fungsional

-Migrasi eksternal ovum terutama pada kasus perkembangan duktus mulleri yang abnormal

-Refluks menstruasi

-Berubahnya motilitas tuba karena perubahan kadar hormon estrogen dan progesteron

3.Peningkatan daya penerimaan mukosa tuba terhadap ovum yang dibuahi.

4.Hal lain seperti; riwayat KET dan riwayat abortus induksi sebelumnya.

  1. C.             Klasifikasi

Sarwono Prawirohardjo dan Cuningham masing-masing dalam bukunya mengklasifikasikan kehamilan ektopik berdasarkan lokasinya antara lain:

1.Tuba Fallopii

1)      Pars-interstisialis

2)      Isthmus

3)      Ampula

4)      Infundibulum

5)      Fimbrae

2.Uterus

a)      Kanalis servikalis

b)      Divertikulum

c)      Kornu

d)     Tanduk rudimenter

3.Ovarium

4.Intraligamenter

5.Abdominal

a)      Primer

b)      Sekunder

6.Kombinasi kehamilan dalam dan luar uterus.

  1. D.    Patofisiologi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. E.     Manifestasi klinis

 

Gambaran klinik kehamilan ektopik sangat bervariasi tergantung dari ada tidaknya ruptur. Triad klasik dari kehamilan ektopik adalah nyeri, amenorrhea, dan perdarahan per vaginam. Pada setiap pasien wanita dalam usia reproduktif, yang datang dengan keluhan amenorrhea dan nyeri abdomen bagian bawah, harus selalu dipikirkan kemungkinan terjadinya kehamilan ektopik.

Selain gejala-gejala tersebut, pasien juga dapat mengalami gangguan vasomotor berupa vertigo atau sinkop; nausea, payudara terasa penuh, fatigue, nyeri abdomen bagian bawah,dan dispareuni. Dapat juga ditemukan tanda iritasi diafragma bila perdarahan intraperitoneal cukup banyak, berupa kram yang berat dan nyeri pada bahu atau leher, terutama saat inspirasi.

Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan nyeri tekan pelvis, pembesaran uterus, atau massa pada adnexa. Namun tanda dan gejala dari kehamilan ektopik harus dibedakan dengan appendisitis, salpingitis, ruptur kista korpus luteum atau folikel ovarium. Pada pemeriksaan vaginal, timbul nyeri jika serviks digerakkan, kavum Douglas menonjol dan nyeri pada perabaan.

Pada umumnya pasien menunjukkan gejala kehamilan muda, seperti nyeri di perut bagian bawah, vagina uterus membesar dan lembek, yang mungkin tidak sesuai dengan usia kehamilan. Tuba yang mengandung hasil konsepsi menjadi sukar diraba karena lembek.

Nyeri merupakan keluhan utama. Pada ruptur, nyeri terjadi secara tiba-tiba dengan intensitas tinggi disertai perdarahan, sehingga pasien dapat jatuh dalam keadaan syok. Perdarahan per vaginam menunjukkan terjadi kematian janin.
Amenorrhea juga merupakan tanda penting dari kehamilan ektopik. Namun sebagian pasien tidak mengalami amenorrhea karena kematian janin terjadi sebelum haid berikutnya.

  1. F.     Tanda dan gejala

Tanda :

  1. Nyeri abdomen bawah atau pelvic, disertai amenorrhea atau spotting atau perdarahan vaginal.
  2. Menstruasi abnormal.
  3. Abdomen dan pelvis yang lunak.
  4. Perubahan pada uterus yang dapat terdorong ke satu sisi oleh massa kehamilan, atau tergeser akibat perdarahan. Dapat ditemukan sel desidua pada endometrium uterus.
  5. Penurunan tekanan darah dan takikardi bila terjadi hipovolemi.
  6. Kolaps dan kelelahan
  7. pucat
  8. Nyeri bahu dan leher (iritasi diafragma)
  9. Nyeri pada palpasi, perut pasien biasanya tegang dan agak gembung.
  10. Gangguan kencing

Kadang-kadang terdapat gejala besar kencing karena perangangan peritoneum oleh darah di dalam rongga perut.

  1. Pembesaran uterus

Pada kehamilan ektopik uterus membesar juga karena pengaruh hormon-hormon kehamilan tapi pada umumnya sedikit lebih kecil dibandingkan dengan uterus pada kehamilan intrauterin yang sama umurnya.

  1. Nyeri pada toucher

Terutama kalau cervix digerakkan atau pada perabaan cavumdouglasi (nyeri digoyang)

  1. Tumor dalam rongga panggul

Dalam rongga panggul teraba tumor lunak kenyal yang disebabkan kumpulan darah di tuba dan sekitarnya.

  1. Perubahan darah

Dapat diduga bahwa kadar haemoglobin turun pada kehamilan tuba yang terganggu, karena perdarahan yang banyak ke dalam rongga perut.

Gejala:

  1. Nyeri:

Nyeri panggul atau perut hampir terjadi hampir 100% kasus kehamilan ektopik. Nyeri dapat bersifat unilateral atau bilateral , terlokalisasi atau tersebar.

  1. Perdarahan:

Dengan matinya telur desidua mengalami degenerasi dan nekrose dan dikeluarkan dengan perdarahan. Perdarahan ini pada umumnya sedikit, perdarahan yang banyak dari vagina harus mengarahkan pikiran kita ke abortus biasa.Perdarahan abnormal uterin, biasanya membentuk bercak. Biasanya terjadi pada 75% kasus

  1. Amenorhea:

Hampir sebagian besar wanita dengan kehamilan ektopik yang memiliki berkas perdarahan pada saat mereka mendapatkan menstruasi, dan mereka tidak menyadari bahwa mereka hamil

 

 

  1. G.    Penatalaksanaan

Penanganan kehamilan ektropik pada umumnya adalalah laparotomi. Dalam tindakan demikian , beberapa hal harus diperhatikan dan dipertimbangkan, yaitu sebagai berikut.

  1. Kondisi ibu pada saat itu.
  2. Keinginan ibu untuk mempertahankan fungsi reproduksinya.
  3. Lokasi kehamilan ektropik.
  4. Kondisi anatomis organ pelvis.
  5. Kemampuan teknik bedah mikro dokter.
  6. Kemampuan teknologi fertilasi in vitro setempat.

Hasil pertimbangan ini menentukan apakah perlu di lakukan salpingektomi pada kehamilan tuba atau dapat dilakukan pembedahan konservatif. Apakah kondisi ibu buruk, misalnya dalam keadaan syok, lebih baik di lakukan salpingektomi. Pada kasus kehamilan ektropik di pars ampularis tuba yang belum pecah biasanya di tangani dengan menggunakan kemoterapi untung menghindari tindakan pembedahan.

Karena kehamilan ektopik dapat mengancam nyawa, maka deteksi dini dan pengakhiran kehamilan adalah tatalaksana yang disarankan. Pengakhiran kehamilan dapat dilakukan melalui:

1. Obat-obatan

Dapat diberikan apabila kehamilan ektopik diketahui sejak dini. Obat yang digunakan adalah methotrexate (obat anti kanker).

2. Operasi

Untuk kehamilan yang sudah berusia lebih dari beberapa minggu, operasi adalah tindakan yang lebih aman dan memiliki angka keberhasilan lebih besar daripada obat-obatan. Apabila memungkinkan, akan dilakukan operasi laparaskopi.

Bila diagnosa kehamilan ektopik sudah ditegakkan, terapi definitif adalah pembedahan :

  1. Laparotomi : eksisi tuba yang berisi kantung kehamilan (salfingo-ovarektomi) atau insisi longitudinal pada tuba dan dilanjutkan dengan pemencetan agar kantung kehamilan keluar dari luka insisi dan kemudian luka insisi dijahit kembali.
  2. Laparoskop : untuk mengamati tuba falopii dan bila mungkin lakukan insisi pada tepi superior dan kantung kehamilan dihisap keluar tuba.

Operasi Laparoskopik : Salfingostomi

Bila tuba tidak pecah dengan ukuran kantung kehamilan kecil serta kadar β-hCG rendah maka dapat diberikan injeksi methrotexatekedalam kantung gestasi dengan harapan bahwa trofoblas dan janin dapat diabsorbsi atau diberikan injeksi methrotexate 50 mg/m3 intramuskuler.

Syarat pemberian methrotexate pada kehamilan ektopik:

  1. Ukuran kantung kehamilan
  2. Keadaan umum baik (“hemodynamically stabil”)
  3. Tindak lanjut (evaluasi) dapat dilaksanakan dengan baik

Keberhasilan pemberian methrotexate yang cukup baik bila :

  1. Masa tuba
  2. Usia kehamilan
  3. Janin mati
  4. Kadar β-hCG

Kontraindikasi pemberian Methrotexate :

  1. Laktasi
  2. Status Imunodefisiensi
  3. Alkoholisme
  4. Penyakit ginjal dan hepar
  5. Diskrasia darah
  6. Penyakit paru aktif
  7. Ulkus peptikum

Pasca terapi konservatif atau dengan methrotexate, lakukan pengukuran serum hCG setiap minggu sampai negatif. Bila perlu lakukan “second look operation”.

  1. H.    Komplikasi

Komplikasi kehamilan ektopik dapat terjadi sekunder akibat kesalahan diagnosis, diagnosis yang terlambat, atau pendekatan tatalaksana. Kegagalan penegakan diagnosis secara cepat dan tepat dapat mengakibatkan terjadinya ruptur tuba atau uterus, tergantung lokasi kehamilan, dan hal ini dapat menyebabkan perdarahan masif, syok, DIC, dan kematian.

Komplikasi yang timbul akibat pembedahan antara lain adalah perdarahan, infeksi, kerusakan organ sekitar (usus, kandung kemih, ureter, dan pembuluh darah besar). Selain itu ada juga komplikasi terkait tindakan anestesi.

  1. I.      Pencegahan

Berhenti merokok akan menurunkan risiko kehamilan ektopik. Wanita yang merokok memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mengalami kehamilan ektopik. Berhubungan seksual secara aman seperti menggunakan kondom akan mengurangi risiko kehamilan ektopik dalam arti berhubungan seks secara aman akan melindungi seseorang dari penyakit menular seksual yang pada akhirnya dapat menjadi penyakit radang panggul. Penyakit radang panggul dapat menyebabkan jaringan parut pada saluran tuba yang akan meningkatkan risiko terjadinya kehamilan ektopik.

Kita tidak dapat menghindari 100% risiko kehamilan ektopik, namun kita dapat mengurangi komplikasi yang mengancam nyawa dengan deteksi dini dan tatalaksana secepat mungkin. Jika kita memiliki riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, maka kerjasama antara dokter dan ibu sebaiknya ditingkatkan untuk mencegah komplikasi kehamilan ektopik.

ASUHAN KEPERAWATAN

 

  1. A.    Pengkajian
    1. Anamnesis dan gejala klinis
      1. Riwayat terlambat haid
      2. Gejala dan tanda kehamilan muda
      3. Dapat ada atau tidak ada perdarahan per vaginan
      4. Terdapat aminore
      5. Ada nyeri mendadak di sertai rasa nyeri bahu dan seluruh abdomen, terutama abdomen bagian kanan / kiri bawah
      6. Berat atau ringannya nyeri tergantung pada banyaknya darah yang terkumpul dalam peritoneum.
  2. Pemeriksaan fisik
  • Inspeksi

-          Mulut            :           bibir pucat

-          Payudara       :           hyperpigmentasi, hipervaskularisasi, simetris

-          Abdomen      :           terdapat pembesaran abdomen.

-          Genetalia      :           terdapat perdarahan pervaginam

-          Ekstremitas   :           dingin

  • Palpasi

- Abdomen      :     uterus teraba lembek, TFU lebih kecil daripada UK, nyeri tekan, perut teraba tegang, messa pada adnexa.

- Genetalia           : Nyeri goyang porsio, kavum douglas menonjol.

  • Auskultasi

-    Abdomen            : bising usus (+), DJJ (-)

  • Perkusi

- Ekstremitas : reflek patella + / +

  1. Pemeriksaan fisik umum:
  • Pasien tampak anemis dan sakit
  • Didapatkan rahim yang juga membesar, adanya tumor di daerah adneksa.
  • Kesadaran bervariasi dari baik sampai koma tidak sadar.
  • Daerah ujung (ekstremitas) dingin
  • Adanya tanda-tanda syok hipovolemik, yaitu hipotensi, pucat, adanya tanda-tanda abdomen akut, yaitu perut tegang bagian bawah, nyeri tekan dan nyeri lepas dinding abdomen.
  • Pemeriksa nadi meningkat, tekanan darah menurun sampai syok
  • Pemeriksaan abdomen: perut kembung, terdapat cairan bebas darah, nyeri saat perabaan.
  1. Pemeriksaan khusus:
  • Nyeri goyang pada pemeriksaan serviks
  • Kavum douglas menonjol dan nyeri
  • Mungkin tersa tumor di samping uterus
  • Pada hematokel tumor dan uterus sulit dibedakan.
  • Pemeriksaan ginekologis: seviks teraba lunak, nyeri tekan, nyeri pada uteris kanan dan kiri
  1. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan air seni dapat dilakukan untuk mengetahui kehamilan seseorang, sedangkan untuk mengetahui kehamilan ektopik seorang dokter dapat melakukan:

  1. a.      Laboratorium
  • ·Hematokrit

Tergantung pada populasi dan derajat perdarahan abdominal yang terjadi.

  • ·Sel darah putih

Sangat bervariasi dan tak jarang terlihat adanya leukositosis. Leoukosite 15.000/mm3Laju endap darah meningkat.

  • ·Tes kehamilan

Pada kehamilan ektopik hampir 100% menunjukkan pemeriksaan β-hCG positif. Pada kehamilan intrauterin, peningkatan kadar β-hCG meningkat 2 kali lipat setiap dua hari, 2/3 kasus kehamilan ektopik menunjukkan adanya peningkatan titer serial hCG yang abnormal, dan 1/3 sisanya menunjukkan adanya peningkatan titer hCG yang normal. Kadar hormon yang rendah  menunjukkan adanya suatu masalah seperti kehamilan ektopik.

  1. b.      Pemeriksaan Penunjang/Khusus
  • Setelah 24 jam dan jumlah sel darah merah dapat meningkat.
  • Pemeriksaan ultrosonografi (USG). Pemeriksaan ini dapat menggambarkan isi dari rahim seorang wanita. Pemeriksaan USG dapat melihat dimana lokasi kehamilan seseorang, baik di rahim, saluran tuba, indung telur, maupun di tempat lain.

USG : – Tidak ada kantung kehamilan dalam kavum uteri

- Adanya kantung kehamilan di luar kavum uteri

- Adanya massa komplek di rongga panggul

  • Laparoskopiperanan untuk menegakkan diagnosa kehamilan ektopik sudah diganti oleh USG
  • Laparotomi Harus dilakukan pada kasus kehamilan ektopik terganggu dengan gangguan hemostasis (tindakan diagnostik dan definitif).
  • KuldosintesisMemasukkan jarum kedalam cavum Douglassi transvaginal untuk menentukan ada atau tidak adanya darah dalam cavum Douclassi. Tindakan ini tak perlu dikerjakan bila diagnosa adanya perdarahan intraabdominal sudah dapat ditegakkan dengan cara pemeriksaan lain.
  • Diagnosis pasti hanya ditegakkan dengan laparotomi.
  1. B.     Diagnosis Keperawatan

Kemungkinan diagnosis keperawatan yang muncul adalah sebagai berikut:

  1. Devisit volume cairan yang berhubungan dengan ruptur pada lokasi implantasi sebagai efek tindakan pembedahan.
  2. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman nutrient ke sel.
  3. Nyeri yang berhubungan dengan ruptur tuba falopi, pendarahan intraperitonial.
  4. Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan kurang pemahaman atau tidak mengenal sumber-sumber informasi.
  1. C.    Intervensi keperawatan
    1. Diagnosis 1: Devisit volume cairan yang berhubungan dengan ruptur pada lokasi implantasi sebagai efek tindakan pembedahan.

Kriteria hasil: ibu menunjukan kestabilan/ perbaikan keseimbangn cairan yang di buktikan oleh tanda-tanda vital yang stabil, pengisian kapiler cepat, sensorium tepat, serta frekuensi berat jenis urine adekuat.

No Rencana Inervensi Rasional
1 Lakukan pendekatan kepada pasien dan keluarga. Pasien dan keluarga lebih kooperatif
2 Memberikan penjelasan mengenai kondisi pasien saat ini pasien mengerti tentang keadaan dirinya dan lebih kooperatif terhadap tindakan.
3 Observasi TTV dan observasi tanda akut abdoment. parameter deteksi dini adanya komplikasiyang terjadi.
4 Pantau input dan output cairan Untuk mengetahui kesaimbangan cairan dalam tubuh
5 Pemeriksa kadar Hb mengetahui kadar Hb klien sehubungan dengan perdarahan.
6 Lakukan kolaborasi dengan tim medis untuk penanganan lebih lanjut. melaksanakan fungsi independent.
  1. Diagnosia 2: Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman nutrient ke sel.

Criteria hasil: menunjukan perfusi jaringan yang adekuat, misalnya: Tanda-tanda vital stabil, membrane mukosa warna merah muda, pengisian kapilerbaik, haluaran urine adekuat, wajah tidak pucat dan mental seperti biasa.

No Tindakan intervensi rasional
1 Awasi tanda vital, kaji pengisian kapiler, warna kulit/membrane mukosa, dasar kuku. Memberikan informasi tentang derajat/adekuat perfusi jaringan dan membantu menentukan kebutuhan intervensi.
2 Catat keluhan rasa dingin, pertahankan suhu lingkungan dan tubuh hangat sesuai indikasi. Vasokonstriksi menurunkan sirkulasi perifer. Kenyamanan pasien/ kebutuhan rasa hangat harus seimbang dengan kebutuhan untuk menghindari panas berlebihan.
3 Kolaborasi dengan tim medis yang lain, awasi pemeriksaan lab: misalnya: HB/HT Mengidentifikasi defisiensi dan kebuutuhan pengobatan atau terhadap terapi.
  1. Diagnosis 3: Nyeri yang berhubungan dengan ruptur tuba falopi, pendarahan intraperitonial.

Kriteria hasil: ibu dapat mendemonstrasikan teknik relaksasi, tanda-tanda vital dalam batas normal, dan ibu tidak meringis atau menunjukan raut muka yang kesakitan.

no Rencana Intervensi Rasional
Mandiri:
1 Tentukan sifat, lokasi dan durasi nyeri. Kaji kontraksi uterus hemoragi ataunyeri tekan abdomen. Membantu dalam mendiagnosis dan menentukan tindakan yang akan dilakukan. Ketidak nyamanan dihubungkan dengan aborsi spontan dan molahidatiosa karena kontraksi uterus yang mungkin diperberat oleh infuse oksitosin. Rupture kehamilan ektropik mengakibatkan nyeri hebat, karena hemoragi tersembunyi saat tuba falopi rupture ke dalam abdomen.
2 Kaji steres psikologi ibu/pasangan dan respons emosional terhadap kejadian. Ansietas terhadap situasi darurat dapat memperberat ketidak nyamanan karena syndrome ketegangan, ketakutan, dan nyeri..
3 Berikan lingkungan yang tenang dan aktivitas untuk menurunkan rasa nyeri. Instruksikan klien untuk menggunakan metode relaksasi, misalnya: napas dalam, visualisasi distraksi, dan jelaskan prosedur. Dapat membantu dalam menurunkan tingkat asietas dan karenanya mereduksi ketidaknyamanan.
Kolaborasi:
1 Berikannarkotik atau sedative berikut obat-obat praoperatif bila prosedur pembedahan diindikasikan. Meningkatkan kenyamanan, menurunkan komplikasi pembedahan
5 Siapkan untuk prosedur bedah bila terdapat indikasi Tingkatkan terhadap penyimpangan dasar akan menghilangkan nyeri.
  1. Diagnosis 3: Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan kurang pemahaman atau tidak mengenal sumber-sumber informasi.

Tujuan: ibu berpartisipasi dalam proses belajar, mengungkapkan dalam istilah sederhana, mengenai patofisiologi dan implikasi klinis.

No Rencana Intervensi Rasional
1 Menjelaskan tindakan dan rasional yang ditentukan untuk kondisi hemoragia. Memberikan informasi, menjelaskan kesalahan konsep pikiran ibu mengenai prosedur yang akan dilakukan, dan menurunkan sters yang berhubungan dengan prosedur yang diberikan.
2 Berikan kesempatan bagi ibu untuk mengaji\ukan pertanyaan dan mengungkapkan kesalah konsep Memberikan klisifikasi dari konsep yang salah, identifikasi masala-masalah dan kesempatan untuk memulai mengembangkan ketrampilan penyesuaian (koping)
3 Diskusikan kemungkinan implikasi jangka ependek pada ibu/janin dari kedaan pendarahan. Memberikan informasi tentang kemungkinan komplikasi dan meningkatkan harapan realita dan kerja sama dengan aturan tindakan.
4 Tinjau ulang implikasi jangka panjang terhadap situasi yang memerlukan evaluasi dan tindakan tambahan. Ibu dengan kehamilan ektropik dapat memahami kesulitan mempertahankan setelah pengangkatan tuba/ovarium yang sakit.
  1. D.    Implementasi

Tanggal       :

Jam                         :

Dx                  : Devisit volume cairan yang berhubungan dengan ruptur pada lokasi implantasi sebagai efek tindakan pembedahan.

 

Jam

05.00 Melakukan pendekatan kepada pasien dan keluarga dengan cara memperkenalkan diri terlebih dahulu lalu menanyakan apa yang di keluhkan ibu saat ini agar pasien dan keluarga lebih kooperatif.

05.05Memberikan penjelasan mengenai kondisi pasien saat ini agar pasien mengerti tentang keadaan dirinya dan lebih kooperatif terhadap tindakan.

05.10Melakukan observasi TTV sebagai parameter deteksi dini adanya komplikasi yang terjadi dengan hasil :

KU              : cukup

Kesadaran   : composmentis

TD              : 100/70 mmHg

Suhu           : 36,4 ºC

Nadi            : 88x/menit

RR              : 22x/menit

Melakukan observasi tanda akut abdoment seperti : perut kembung, nyeri tekan abdoment, nyeri tekan adneksa kanan dan adneksa kiri.

05.30Memantau input yaitu infus RL 21 tetes/menit dan output yaitu DC 100cc untuk Untuk mengetahui kesaimbangan cairan dalam tubuh05.35Melakukan pemeriksaan kadar Hb Serial, untuk mengetahui kadar Hb klien sehubungan dengan perdarahan05.45Melakukan kolaborasi dengan tim medis yaitu dilakukan operasi untuk penanganan lebih lanjut dan sebagai fungsi independent.

  1. E.     Evaluasi

Hari/ tgl      :

Jam                        :

Tempat      :

S    : Ibu mengatakan nyeri pada luka bekas operasi dan badan terasa panas.

O  : Keadaan umum                       : Cukup

Kesadaran                    : Composmetis

TTV                              : TD : 100 / 70 mmHg

N      : 96x /menit

RR : 22x / menit

S       : 38,7oC

A      : Masalah teratasi sebagian

P       : -. Observasi TTV

-. Pantau input dan output cairan

-. Observasi perdarahan

-. Terapi : – obat-obat anti nyeri

- Methrotexate

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan 

Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari makalah ini adalah sebagai berikut:

  1.  Kehamilan Ektopik Terganggu adalah suatu kehamilan ektopik yang mengalami abortus ruptur pada dinding tuba.
  2. Etiologi kehamilan ektopik terganggu telah banyak diselidiki, tetapi sebagian besar penyebabnya tidak diketahui. Trijatmo Rachimhadhi dalam bukunya menjelaskan beberapa faktor yang berhubungan dengan penyebab kehamilan ektopik terganggu, yaitu:
  • o Faktor mekanis
  • o Faktor fungsional
  • o Peningkatan daya penerimaan mukosa tuba terhadap ovum yang dibuahi.
  • o Hal lain seperti; riwayat KET dan riwayat abortus induksi sebelumnya.
  1. Kalangan usia yang rentan terhadap Kehamilan Ektopik Terganggu adalah antara 20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun.

B. Saran

Banyak hambatan yang penulis dapatkan dalam pembuatan makalah ini akibat keterbatasan ilmu dan pengalaman penulis. Oleh karena itu penulis menyarankan agar kegiatan seperti ini agar kiranya dapat slalu dilakukan untuk menambah ilmu dan pengetahuan serta sebagai bahan aplikasi jika kelak mengambil profesi dan terjun dimasyarakat luas.

DAFTAR PUSTAKA

v  Prawirohardjo S, Hanifa W. Gangguan Bersangkutan dengan Konsepsi. Dalam: Ilmu Kandungan, edisi II. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, 2005

v  Mansjoer Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III, Jilid I. Media Aesculapius FKUI

http://www.google.com/Gambaran Kasus Kehamilan Ektopik Terganggu di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Provinsi Riau Periode 1 Januari 2003-31 Desember 2005

http://www.medica store.com/kehamilan ektopik,kehamilan luar kandungan/page:1-4

v  Bagian obstetri dan Ginekologi FK UNPAD. 1984. Obstetri Patologi. Bandung : FK UNPAD

v  Sarwono. 1999. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBP-SP

v  Sarwono. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : YBP-SP

http://www.pusmaika’s.blogspot.com

www.google.com

 

ASKEP PLESENTA PREVIA

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PLASENTA PREVIA

  1. 1.      PENGERTIAN

Plasenta previa yaitu merupakan plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (Ostium uteri internum)

Klasifikasi plasenta previa berdasarkan terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu :

ü  Plasenta Previa Totalis : bila seluruh pembukaan jalan lahir tertutup oleh plasenta

ü  Plasenta Previa lateralis : bila hanya sebagian pembukaan jalan lahir tertutup oleh plasenta.

ü  Plasenta Previa Marginalis : bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan jalan lahir.

ü  Plasenta Previa Letak Rendah : bila plasenta berada 3-4 cm diatas pinggir pembukaan jalan lahir.

 

  1. 2.      GAMBARAN KLINIS
    1. Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak perdarahan yang terjadi pertama kali, biasanya tidak banyak dan tidak berakibat fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu lebih banyak dari sebelumnya. Perdarahan pertama sering terjadi pada triwulan ketiga.
    2. Pasien yang datang dengan perdarahan karena plasenta previa tidak mengeluh adanya rasa sakit.
    3. Pada uterus tidak teraba keras dan tidak tegang
    4. Bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul dan tidak jarang terjadi letak janin letak lintang atau letak sungsang.
    5. Janin mungkin masih hidup atau sudah mati, tergantung banyaknya perdarahan

 

  1. 3.      ETIOLOGI

Menurut Manuaba (2003), penyebab terjadinya plasenta previa diantaranya adalah mencakup :

  1. Perdarahan (hemorrhaging)
  2. Usia lebih dari 35 tahun
  3. Multiparitas
  4. Pengobatan infertilitas
  5. Multiple gestation
  6. Erythroblastosis
  7. Riwayat operasi/pembedahan uterus sebelumnya
  8. Keguguran berulang
  9. Status sosial ekonomi yang rendah
  10. Jarak antar kehamilan yang pendek
  11. Merokok

 

Menurut Hanafiah (2004) klasifikasi plasenta previa dapat dibedakan menjadi 4 derajat yaitu :

  1. Total bila menutup seluruh serviks
  2. Partial bila menutup sebagian serviks
  3. Lateral bila menutup 75% (bila hanya sebagian pembukaan jalan lahir tertutup oleh plasenta).
  4. Marginal bila menutup 30% (bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan jalan lahir).

 

  1. 4.      PATOFISIOLOGI

Terdapat perbedaan pada vagina pada usia kehamilan 20 minggu, timbul secara spontan tanpa melakukan aktivitas atau akibat trauma abdomen, darah berwarna merah segar, disertai atau tanpa disertai rasa nyeri akibat kontraksi uterus. Perlu juga dicari beberapa faktor predisposisi seperti riwayat solusio plasentae, perokok, hipertensi, multiparitas dan kehamilan ganda.

Plasenta Menempel Di Segmen Bawah/Plasenta Lepas Dari Dinding Uterus

 

Perdarahan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 5.      MANIFESTASI KLINIS

Anamnesis

Perjalanan jalan lahir berwarna merah segar tanpa rasa nyeri, tanpa sebab, terutama pada multigravida pada kehamilan setelah 20 minggu.

Pemeriksaan Fisik

a)      Pemeriksaan luar, bagian terbawah janin  biasanya belum masuk pintu atas panggul, ada kelainan letak janin.

b)      Pemeriksaan inspekula, perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum.

 

  1. 6.      KOMPLIKASI

a)      Prolaps tali pusat

b)      Prolaps Plasenta

c)      Plasenta Melekat

d)     Robekan-robekan jalan lahir

e)      Perdarahan post partum

f)       Infeksi

g)      Bayi Prematuritas atau kelahiran mati

 

  1. 7.      PEMERIKSAAN PENUNJANG

a)      USG : Biometri janin, indeks cairan amnion, kelainan kongenital, letak dan derajat maturasi plasenta. Lokasi plasenta sangat penting karena hal ini berkaitan dengan teknik operasi yang akan dilakukan.

b)      Kardiotokografi (KTG) : dilakukan pada kehamilan > 28 Minggu

c)      Laboraturium : darah perifer lengkap. Bila dilakukan PDMO atau operasi, perlu diperiksa faktor pembekuan darah, waktu perdarahan dan gula darah sewaktu pemeriksaan lainnya dilakukan atas indikasi medis.

 

  1. 8.      PENATALAKSANAAN

Ketika dirawat di rumah sakit tanpa periksa dalam. Bila pasien dalam keadaan syok karena pendarahan yang banyak, harus segera diperbaiki keadaan umumnya dengan pemberian infus atau tranfusi darah. Selanjutnya penanganan plasenta previa bergantung kepada :

ü  Keadaan umum pasien, kadar hb.

ü  Jumlah perdarahan yang terjadi.

ü  Umur kehamilan/taksiran BB janin.

ü  Jenis plasenta previa.

ü  Paritas clan kemajuan persalinan.

Penanganan Ekspektif

Kriteria :

- Umur kehamilan kurang dari 37 minggu.

- Perdarahan sedikit

- Belum ada tanda-tanda persalinan

- Keadaan umum baik, kadar Hb 8 gr% atau lebih.

Rencana Penanganan :

1. Istirahat baring mutlak.

2. Infus D 5% dan elektrolit

3. Spasmolitik. tokolitik, plasentotrofik, roboransia.

4. Periksa Hb, HCT, COT, golongan darah.

5. Pemeriksaan USG.

6. Awasi perdarahan terus-menerus, tekanan darah, nadi dan denyut jantung janin.

7. Apabila ada tanda-tanda plasenta previa tergantung keadaan pasien ditunggu sampai kehamilan 37 minggu selanjutnya penanganan secara aktif.

 

Penanganan aktif

Kriteria :

• umur kehamilan >/ = 37 minggu, BB janin >/ = 2500 gram.

• Perdarahan banyak 500 cc atau lebih.

• Ada tanda-tanda persalinan.

• Keadaan umum pasien tidak baik ibu anemis Hb < 8 gr%.

Untuk menentukan tindakan selanjutnya SC atau partus pervaginum, dilakukan pemeriksaan dalam kamar operasi, infusi transfusi darah terpasang.

Indikasi Seksio Sesarea :

1. Plasenta previa totalis.

2. Plasenta previa pada primigravida.

3. Plasenta previa janin letak lintang atau letak sungsang

4. Anak berharga dan fetal distres

5. Plasenta previa lateralis jika :

• Pembukaan masih kecil dan perdarahan banyak.

• Sebagian besar OUI ditutupi plasenta.

• Plasenta terletak di sebelah belakang (posterior).

  1. Profause bleeding, perdarahan sangat banyak dan mengalir dengan cepat.

 

  1. 9.      PEMERIKSAAN PENUNJANG
  1. USG (Ultrasonographi)

Dapat mengungkapkan posisi rendah berbaring placnta tapi apakah placenta melapisi cervik tidak biasa diungkapkan

  1. Sinar X

Menampakkan kepadatan jaringan lembut untuk menampakkan bagian-bagian tubuh janin.

  1. Pemeriksaan laboratorium

Hemoglobin dan hematokrit menurun. Faktor pembekuan pada umumnya di dalam batas normal.

  1. Pengkajian vaginal

Pengkajian ini akan mendiagnosa placenta previa tapi seharusnya ditunda jika memungkinkan hingga kelangsungan hidup tercapai (lebih baik sesuadah 34 minggu). Pemeriksaan ini disebut pula prosedur susunan ganda (double setup procedure). Double setup adalah pemeriksaan steril pada vagina yang dilakukan di ruang operasi dengan kesiapan staf dan alat untuk efek kelahiran secara cesar.

  1. Isotop Scanning

Atau lokasi penempatan placenta.

  1. Amniocentesis

Jika 35 – 36 minggu kehamilan tercapai, panduan ultrasound pada amniocentesis untuk menaksir kematangan paru-paru (rasio lecithin / spingomyelin [LS] atau kehadiran phosphatidygliserol) yang dijamin. Kelahiran segera dengan operasi direkomendasikan jika paru-paru fetal sudah mature.

 

 

PROSES KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PLASENTA PREVIA

 

Pengkajian Data

Pengkajian merupakan dasar proses keperawatan , di perlukan pengkajian yang cemat untuk masalah klien agar dapat memberi arah kepada tindakan keperawatan.informasi akan menentukan kebutuhan dan masalah kesehatan keperawatan yang meliputi kebutuhan, fisik, psikososial dan lingkungan. Metode pengumpulan data meliputi  pengumpulan data, klasifikasi data, analisa data, rumusan diagnosa keperawatan. Data yang perlu dikumpulkan pada klien dengan anemia adalah sebagai berikut :

 

  1. Pengumpulan data

-          Identifikasi klien : nama klien, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku atau bangsa, pendididkan, pekerjaan, dan alamat.

  1. Identitas Penanggung Jawab Pasien
  2. Keluhan utama dan riwayat kesehatan masa lalu
  3. Keluhan utama

ü  Pasien mengatakan perdarahan yang disertai nyeri.

ü  Rahim keras seperti papan dan nyeri tekan karena isi rahim bertambah dengan dorongan yang berkumpul dibelakang plasenta, sehingga rahim tegang.

ü  Perdarahan yang berulang-ulang.

  1. Riwayat penyakit sekarang

Darah terlihat merah kehitaman karena membentuk gumpalan darh, darah yang keluar sedikit banyak, terus menerus. Akibat dari perdarahan pasien lemas dan pucat. Sebelumnya biasanya pasien pernah mengalami hypertensi esensialis atau pre eklampsi, tali pusat pendek trauma, uterus yang sangat mengecil (hydroamnion gameli) dll.

  1. Riwayat penyakit masa lalu

Kemungkinan pasien pernah menderita penyakit hipertensi, tali pusat pendek, trauma, uterus / rahim feulidli.

  1. Riwayat psikologis

Pasien cemas karena mengalami perdarahan disertai nyeri, serta tidak mengetahui asal dan penyebabnya.

  1. Pemeriksaan fisik
  2. Keadaan umum
  • Kesadaran : composmetis s/d coma
  • Postur tubuh : biasanya gemuk
  • Cara berjalan : biasanya lambat dan tergesa-gesa
  • Raut wajah : biasanya pucat
  1. Tanda-tanda vital
  • Tensi : normal sampai turun (syok)
  • Nadi : normal sampai meningkat (> 90x/menit)
  • Suhu : normal / meningkat (> 37o c)
  • RR : normal / meningkat (> 24x/menit)

 

Pemeriksaan Fisik

  1. Anamnesa plasenta previa
    1. Terjadi perdarahan pada kehamilan sekitar 28 minggu.
    2. Sift perdarahan :
  • Tanpa rasa sakit terjadi secara tiba-tiba
  • Tanpa sebab yang jelas
  • Dapat berulang
  1. Perdarahan menimbulkan penyulit pada ibu atau janin dalam rahim
  2. Pada inspeksi dijumpai
    1. Perdarahan pervagina encer sampai menggumpal
    2. Pada perdarahan yang banyak ibu tanpa anemis
    3. Pemeriksaan fisik ibu
      1. Dijumpai keadaan bervariasi dari keadaan normal sampai syok
      2. Kesadaran penderita bervariasi dari kesadaran baik sampai koma.
      3. Pada pemeriksaan dapat dijumpai  :
  • Tekanan darah, nadi dan pernafasan dalam batas normal
  • Tekanan darah tuirun, nadi dan pernafasan meningkat
  • Tanpa anemis
  1. Pemeriksaan khusus
    1. Pemeriksaan palpasi abdomen
  • Janin belum cukup bulan, tinggi fundus uteri sesuai dengan umur hamil.
  • Karena plasenta di segmen bahwa rahim, maka dapat dijumpai kelainan letak janin dalam rahim dan bagian terendah masih tinggi.

 

 

  1. Pemeriksaan denyut jantung janin
  • Bervariasi dari normal sampai ke ujung asfiksia dan kematian dalam rahim.
  1. Pemeriksaan dalam dilakukan diats meja operasi dan siap untuk segera mengambil tindakan, Tujuan pemeriksaan dalam untuk :
  • Menegakkan diagnosa pasti
  • Mempersiapkan tindakan untuk melakukan operasi persalinan atau hanya memecahkan ketuban.
  • Hasil pemeriksaan dalam teraba plasenta sekitar osteum, uteri, internum.

 

 

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Nyeri b.d terputusnya kontinuitas jaringan

2. Resti infeksi b.d insisi luka operasi

3. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b.d syok hipovolemik

4. Resti fetal distress b.d terlepasnya placenta

5. Ansietas b.d kurangnya pengetahuan terhadap tindakan yang akan dilakukan

6. Resti konstipasi b.d penurunan peristaltik usus

7. Perubahan pola peran b.d adanya anggota keluarga baru

 

INTERVENSI KEPERAWATAN

  1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan

Tujuan : Rasa nyeri pasien berkurang atau hilang

Kriteria Hasil :

  • Klien tidak gelisah,
  • skala nyeri 1 – 2, tanda vital normal.

Intervensi :

  1. Kaji karakristik, skala, lokasi, intensitas, dan frekuensi nyeri.

Rasional : untuk mengukur tingkatan nyeri dan untuk menindak lanjuti asuhan keperawatan

  1. Monitor tanda vital pasien.

Rasional : untuk mengetahui tanda-tanda adanya infeksi

  1. Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi.

Rasional : untuk mengurangi rasa nyeri klien dengan menarik nafas saat nyeri muncul

  1. Berikan lingkungan tenang dan nyaman

Rasional : menurunkan stres dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat.

  1. Kolaborasi dengan dokter pemberian analgesik

Rasional : untuk mengurangi rasa nyeri.

2. Resiko tinggi infeksi berhubungandengan insisi luka operasi

Tujuan : Tidak terjadi infeksi.

Kriteria Hasil:

  • Limfosit dalam batas normal,
  • tanda vital normal dan tidak ditemukan tanda infeksi.

Intervensi :

  1. Kaji lokasi dan luas luka.

Rasional : untuk mengetahui lokasi luka yang muncul pada klien

  1. Pantau jika terdapat tanda infeksi (rubor, dolor, kolor, dan perubahan fungsi).

Rasional : untu mengetahui lokasi insisi luka

  1. Pantau tanda vital klien

Rasional : mengetahui keadaan klien dan memudahkan tindakan selanjutnya

  1. Kolaborasi pemberian antibiotik.

Rasional : untuk menentukan terapi yang sesuai pada klien.

  1. Ganti balut dengan prinsip steril.

Rasional : mencegah terjadinya infeksi pada luka

3.Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan terhadap tindakan yang akan dilakukan

Tujuan : Ansietas berkurang dan dapat diatasi

Intervensi :

  1. Jelaskan prosedur, intervensi dan tindakan yang dilakukan pada pasien.

Rasional :membantu dalam memahami kebutuhan terhadap prosedur ini.

  1. Pertahankan komunikasi terbuka, diskusikan kemungkinan efek samping dan hasil, pertahankan sikap optimis.

Rasional : informasi yang tepat akan mengurangi cemas pada klien.

  1. Anjurkan pasien untuk mengungkapkan perasaannya

Rasional : klien dan keluarganya akan mersa tenang dan dapat mengurangi rasa cemas.

  1. Libatkan pasangan / keluarga untuk mendampingi pasien.

Rasional : klien akan merasa tenang.

  1. Kolaborasi dengan dokter pemberian sedatif bila tindakan lain tidak berhasil.

Rasional : sebagai langkah tindakan yang selanjutnya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Mitaya.2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: Salemba Medika

Mansjoer, Arif. 2001. KapitaSelekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.

Marilynn E. Doenges & Mary Frances Moorhouse, 2001, Rencana Perawatan Maternal/Bayi, edisi kedua. EGC. Jakarta.

Sarwono, 1997, Ilmu Kebidanan. Yayasan bina pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta

Bagus,Ida. Ilmu Kebidanan, Penyakit kandungan & Keluarga Berencana untuk pendidika kebidanan.EGC : Jakarta

Mochtar, Rustam.Sinopsis Ostetri.Jakarta. EGC

http://www.google.com